Mengunjungi Museum Digital Desa

Penampakan Halaman Depan Laman Museum Digital Desa

Setelah berharap desaku punya museum digital, akhirnya harapan itu terwujud.

Saya diberi kepercayaan untuk membuat website museum desa, setelah difasilitasi domain dan hosting.

Meski hanya menggunakan subdomain, setidaknya aku bisa menampilkan dokumen-dokumen masa lalu desaku.

Content Management System (CMS) yang aku gunakan untuk membuat website museum desa adalah WordPress.

Dan museum digital tersebut saya namai Museum Jalipura.

Kenapa Bernama Jalipura?

Jalipura adalah salah satu tokoh di desaku. Warga kerap menyebutnya dengan istilah Demang Jalipura.

Menurut penuturan beberapa tokoh desa yang saya wawancarai, Demang Jalipura adalah seorang prajurit dari Mataram Islam.

Demang Jalipura lari ke barat ketika dikejar tentara Belanda, hingga sampai di desaku. Beliau kemudian menetap dan beranak-pinak di desaku.

Meski saya belum menemukan catatan perihal biografi Demang Jalipura, namun bukti yang pasti adalah makam beliau yang terletak di pemakaman desa.

Belakangan, orang-orang kerap datang untuk berziarah di makam Demang Jalipura.

Salah satu foto koleksi pendidikan museum digital desaku.

Koleksi

Dalam website meuseum desa, ada beberapa kategori dokumen seperti dokumen pemerintahan desa, pendidikan, kebudayaan, dan arkeologi.

Kategori pemerintah desa berisi dokumen foto yang terkait dengan pemerintahan desa. Kategori pendidikan berisi foto-foto sekolah dasar sekira tahun 1970-an.

Lalu untuk kategori kebudayaan, berisi foto-foto kegiatan budaya seperti lomba-lomba karawitan, grup musik, dan pagelaran budaya seperti wayang dan kuda kepang.

Salah foto koleksi kebudayaan museum digital desa.

Sementara ini, dokumen yang diunggah baru berupa foto. Kedepan, dokumen video maupun dokumen lainnya juga akan diunggah ke laman museum.

Meski demikian, museum digital desa ini secara regulasi beleum memenuhi syarat.

Meski demikian, bagiku, setidak-tidaknya kehadiran laman museum desa ini bisa menghadirkan kenangan masa lalu desa.

Jangan lupa kunjungi laman museum digital desaku.

Bagikan Tulisan Ini Yuk?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *