Sejatinya saya bersyukur.
Hidup di sebuah desa yang memberi segala kemurahan Tuhan. Air melimpah, sawah menghampar, sungai mengular, dan langit luas tanpa batas.
Di ujung barat, atap Jawa Tengah tegak berdiri.
Jika cerah, gunung Slamet tampak begitu anggun dan gagah. Puncaknya keemasan disirmai cahaya jingga langit pagi.
Sementara di sebelah utara, melingkar pegunungan Plana yang jika hujan selesai, kabut tampak begitu pekat dan indah. Atau jika pagi cerah, hutan tampak begitu jelas.
Dari hamparan luas sawah menguning, di sebelah timur saya bisa memandang jelas puncak gunung Sindoro dan Sumbing yang tampak kembar.
Sementara di sebelah Selatan desa, berbtasan dengan desa lainnya yang juga terhampar sawah.
Anomali Cuaca
Beberapa waktu lalu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mempredisikan datangnya musim kemarau yang panjang.
Namun hingga April 2026 ini, anomali cuaca masih terjadi. Kadang pagi begitu cerah, siang begitu panas, dan sore atau malamnya hujan deras.
Dan itu bisa terjadi sebaliknya. Pagi hujan, siang panas, dan sore terang senja.
Sesungguhnya saya sangat merindukan musim kemarau. Sebab, jika musim kemarau datang, pemandangan pagi, sore, dan malam di desaku tampak begitu indah.
Pagi hari matahari berwarna kuning keemasan. Siang hari langit tampak biru. Sementara sore hari, senja menampakan wajah gunung Slamet yang begitu anggun. Dan malam hari, akan terihat jelas Bintang-gemintang dan bundar wajah bulan.
Langit Pagi di Atas Hamparan Desaku
Beberapa pagi belakangan ini—meski belum menginjak kemarau—saya melihat betapa indahnya langit pagi.
Dengan kamera mirrorless Canon, saya mengabadikan wajah langit pagi di atas hamparan desaku.
Jingga, kuning, dan keemasan silih berganti merias wajah langit pagi. Hamparan sawah yang menguning, tampak semakin kuning ketika para petani mulai memanen padi.
Berikut beberapa foto yang aku abadikan melalui lensa kamera.





Sangat indah, bukan?
Lain waktu saya akan menyajikan foto-foto alam yang ada di desaku.
Tinggalkan Balasan