Sebagai seorang perangkat desa, rasanya saya ingin sekali mendedikasikan sedikit kemampuan untuk membuat museum desa secara digital.
Juga sebagai orang yang sangat mencintai sejarah desa, ingin sekali rasanya saya menampilkan wajah masa lalu desa secara daring, sehingga siapapun bisa mengaksesnya.
Bagi saya, desa adalah sesuatu yang unik dan memiliki banyak keragaman. Satu desa dengan desa yang lain tentu berbeda. Begitu pula dengan watak dan karakternya.
Desa sejatinya bukan wilayah yanng tidak memiliki masa lalu. Jauh sebelum negara Indonesia berdiri, desa sudah mampu secara sosial dan pemerintahan untuk mengatur dirinya sendiri.
Peradaban Desa
Desa, meski kadang direpresentasikan sebagai wilayah yang kampungan dan tertinggal, telah terbukti mampu membangun peradabannya sendiri.
Di desaku misalnya, setelah saya melakukan penelusuran sejarahnya, saya menemukan banyak sekali dokumen dan artefak peningggalan peradaban lama.
Ada sebuah pertanyaan yang barangkali sepele: bagaimana masyarakat desa dulu memasak nasi? Bagaimana mereka mengolah sawah? Bagaimana mereka berbudaya? Bagaimana dulu mereka melestarikan alam?
Atau pertanyaan: siapa kepala desa pertama? Atau bagaimana sebuah desa terbentuk, dan bagimana ceritanya?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini memang tampak sepele ditengah regulasi yang mengatur tentang desa.

Sejujurnya, belakangan ini desa seperti menjadi sebuah wilayah yang tidak memiliki identitas. Bagaimana tidak? Musyawarah sebagai salah satu cara untuk mengambil keputusan secara mufakat—maaf kalau tersinggung—telah dirudapaksa oleh negara melalaui regulasi.
Desa sudah tidak memilki otonomi sebagai warisan dari masa lalu. Sebagai hak kewenangan lokal desa, dan sebagai pihak yang sedari dulu—sebelum negara campur tangan—telah mampu menentukan nasibnya sendiri.
Banyak jejak yang saya temukan ketika menelusur sejarah desa saya sendiri.
Jejak itu tidak melulu persoalan suksesi kepemimpinan, melainkan jejak desa membangun dirinya sendiri.
Museum Digital Desa
Atas apa yang sudah saya temukan dalam sejarah desa, saya ingin sekali membuat situs atau website museum yang menunjukkan barang-barang peninggalan masa lalu desa.
Misalnya, di desa saya ada situs megalitikum berupa batu menhir dan batu dolmen. Sayangnya, banyak masyarakat yang justru belum memahami maknanya.
Atau misalnya tentang peninggalan pusaka desa. Atau misalnya barang-barang yang digunakan masayarakat desa dimasa lampau untuk menangkap ikan di sungai, memanen hasil pertanian.

Generasi desa sekarang biasa jadi tidak tahu apa itu Pawon, Cepon, Kusan, Dandang, Alu, Lumpang, Lading, Kudi, dan Pedaringan, misalnya. Atau Ani-Ani (ini bukan tentang ani-ani yang itu ya?) misalnya.
Padahal, barang-barang itulah yang digunakan masyarakat desa dimasa lampau, sebagai cara untuk bertahan hidup, sebagai cara untuk membangun peradaban desa, sebelum digantikan oleh Rice Cooker, Tracktor, dan barang-barang modern lainya.
Museum digital desa yang saya maksud bukan berarti mengajak untuk kembali ke masa lalu, melainkan untuk menjaga ingatan tentang masa lalu yang bagaimanapun, telah membentuk kita seperti hari ini.
Tidak Punya Biaya
Sayangnya, hari ini saya tidak punya biaya untuk mewujudkan impian membuat museum digital desa.
Namun, barang-barang peninggalan desa dimasa lampau sudah mulai saya kumpulkan, dan sebagian sudah saya dokumentasikan dalam bentuk foto.
Saya berharap—dalam hal ini—pemerintah desa mendukung gagasan ini. Jika pun tidak, saya siap bekerjasama dengan siapapun, untuk mewujudkannya.
Meski tidak atau belum bisa membuat museum secara fisik, museum digital desa akan lebih mudah direalisasikan.
Semoga ada orang yang mau bekerjasama dengan saya.
Tinggalkan Balasan