
Hujan yang tak Lelah terus berjatuhan hingga Sabtu pagi. Dentumannya menghujam atap seng rumah.
Hujan ini kelewat Panjang.
Aku duduk di kursi kayu bundar di teras rumah di mana sebagaian lantainya dijatuhi air hujan yang belum berhenti.
Aroma tanah masih menguar ke lubang hidung seolah-olah ini adalah hujan yang pertama.
Orang bilang, hujan adalah peristiwa dimana kenangan juga turut berjatuhan dari langit-langit ingatan.
Dan sepotong wajah itu, kenangan sepotong wajah Gadis Mungil Bermata Sakura itu, tiba-tiba hadir di depanku.
Gadis Mungil Bermata Sakura
Aku sempat memanggilnya Gadis Mungil Bermata Sakura.
Tubuhnya yang jenjang, matanya yang Jepang, dan nada bicaranya yang lembut, membuatku menjalin persahabatan dengannya.
Ribuan cerita persahabatan antara aku dan dia telah tertulis, sebelum akhirnya waktu memisahkan. Sebelum akhirnya cita-cita membawanya pergi ke kota.
Dia menulis ceritanya sendiri, aku mengukir kisahku sendiri.
Tapi wajahnya yang berkelindan pada lebatnya hujan saat ini, membuat dadaku ternyuh. Ingin rasanya aku bercakap-cakap dengannya.
Ingin rasanya aku berkisah perihal petualangan Don Quixote dari La Mancha. Atau kisah tragis Jane Eyre. Atau kisah-kisah Nastenka yang meninggalkan kekasihnya.
Atau sekedar bertanya: “Apakah kau masih ingat angin Desember yang berdesir menjelang siang waktu itu?”
Hujan berhenti.
Bayanganmu lenyap ditelan sunyi.