
Pada akhirnya, aku tiba dipenghujung hari ke 1095.
Hari dimana aku resmi menanggalkan baju putih abu-abu. Seragam yang setia menemaniku menuntut ilmu selama tiga tahun.
Kata orang, masa SMA adalah masa-masa paling yang sulit dilupakan dalam perjalanan hidup. Dan rasanya, aku merasakan betul kata-kata itu.
Aku teringat, ada masa dimana aku mendapatkan teman-teman baru. Sahabat-sahabat baru.
Sahabat-sahabat yang sangat memahamiku. Teman-teman yang selalu mendukungku. Kawan-kawan yang saling membantu.
Ada masa dimana aku berselisih dengan teman sebangku. Dengan kakak dan adik kelas. Ada masa dimana aku menyimpan perhatian khusus pada seorang teman.
Ada masa dimana aku membenci guru killer itu. Ada masa dimana aku sangat menyayangi ibu guru itu.
Tawa, air mata, selalu menjadi tanda yang selalu aku lewati saat masih memakai baju putih abu-abu.
Seribu Kisah Putih Abu-Abu
Aku sungguh menglamai kesulitan menuliskan rasa yang menancap di hati, kepala dan pikiran saat ini.
Rasanya baru kemarin Senin aku berangkat ke sekolah bersama teman-teman, dan kini sudah berganti hari Minggu.
Rasa-rasanya baru satu tahun. Ternyata sudah tahun ketiga. Tahun terakhir aku dididik di sebuah tempat bernama kawah candradimuka. Sebuah sekolah SMK bernama SMAKDA.
Sebuah sekolah dimana aku memiliki seribu kisah putih abu-abu, di dalam dan di luar sekolah.
Aku masih ingat betul. Saat pertama masuk sekolah, rasanya ingin cepat lulus. Bebas dari tugas sekolah, ulangan, bangun pagi, dan segala hal yang waktu itu sungguh terasa melelahkan.
Ternyata, ketika hari kelulusan itu benar-benar terjadi, aku justru menjadi orang yang paling takut untuk pergi.

Takut pergi dari kebaikan teman-teman. Takut pergi dari hangatnya persahabatan. Takut pergi dari segala yang pernah membentuk kisah sepertiga perjalanan hidupku di sekolah. Sungguh aku ketakutan.
Takut jika setelah ini berakhir, semua akan berubah. Juga lorong-lorong sekolah itu, suara-suara tawa itu, aku takut perlahan akan menghilang dari ingatan. Ingatanmu, sahabat, dan juga ingatanku.
Kini aku sadar. Yang membuat masa sekolah indah bukan gedung sekolah, bukan seragam sekolah, melainkan teman dan sahabat yang ada di dalamnya.
Bagiku, bagian yang paling menyakitkan dari perpisahan ini adalah ketika aku tidak benar-benar siap kehilangan suasana yang selama ini sudah aku anggap sebagai rumah sendiri.
Nada Bell Terakhir
Nada bell terakhir telah berbunyi. Nada terakhir ini artinya tidak aka nada lagi canda, tatapan, tawa, tangis, yang bisa diulang dengan cara yang sama.
Aku, kamu, dan teman-teman semua, kita akan pulang ke rumah kita masing-masing.
Setelah itu, kita akan mencari jalan sendiri-sendiri. Mencari bekal hidup untuk masa depan. Kita tidak pernah tahu bagaimana jalan kita kedepan.
Karena tidak setiap orang yang pernah mengenakan putih abu-abu akan tetap tinggal sampai akhir cerita.
Tapi…?
Tapi jika suatu hari waktu mempertemukan kita kembali, baik lama atau sebentar, aku akan berkata:
“I hope we keep in touch each other. Don’t forget me. Just as I will never be able to forget you. Because here, under the school’s sky, I learned how to love, how to forget, and the most important thing is how do I truly be myself”.
Last but Not Least
Walau hanya lewat senyum kecil dan kalimat sederhana, ternyata kita pernah tumbuh bersama dimasa yang paling rumit, sekaligus masa yang paling indah itu.
Ingatlah teman dan sahabatku satu Angkatan, aku tidak akan menyanyikan lagu;
“selamat tinggal teman-temanku, kita berpisah untuk selamanya“.
Tapi aku akan bernyanyi pada bagian ini:
“bagiku kau teman terbaikku, iempatku ‘tuk berbagi luka, walau kini kurasa aku resah, karena kita akan berpisah”.
Tinggalkan Balasan