
Entah angin apa yang tiba-tiba mengjakku menuju sebuah tempat bernama Patrawisa, pada sebuah pagi di bulan Mei yang cerah.
Patrawisa, yang masuk dalam wilayah desa Limbasari, kecamatan Bobotsari, kabupaten Purbalingga itu, memang sudah lama tidak aku kunjungi.
Tempat ini sempat dibuka menjadi lokawisata oleh Perhutani KPH Banyumas Timur bekerjsama dengan Pemerintah Desa Limbasari.
Mumpung cerah—begitu bisik batinku—aku tetap melanjutkan perjalanan.
Dulu, untuk mencapai tempat ini harus berjalan kaki sepanjang kira-kira 4 kilo meter.
Belakangan, para pengunjung—termasuk saya—bisa menggunakan kendaraan roda dua untuk sampai di Lokasi.
Sampai di parkiran, aku langsung menuju hulu sungai Patrawisa.

Tempat Bersejarah
Bisa jadi jarang yang mengetahui bahwa Patrwisa adalah tempat yang dipercayai oleh masyarakat desa Limbasari sebagai cikal bakal terbentuknya nama desa Limbasari.
Patrawisa merupakan seorang pendatang dari Bali. Bersama sahabatnya yang bernama Ketut Wingi, mereka datang ke Limbasari.
Kemudian Ketut Wlingi dan Patrawisa, berguru kepada Syekh Gendhiwesi, seorang pemimpin padepokan bernama Nimbasari.
Kata Nimbasari inilah yang dipercaya masyarakat setempat sebagai asal kata Limbasari, yang sekarang menjadi nama desa.
Ketut Wlingi kemudian dinikahkan dengan Siti Rumbiah, anak gadis Syekh Gendhiwesi.
Sedangkan Patrawisa bernasib naas. Ia meninggal dunia saat sedang membangun saluran air.
Saluran air ini masih digunakan masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Karena itulah, aliran sungai tersebut diberi nama sungai Patrawisa.
Dari pernikahannya dengan Siti Rumbiah, Ketut Wlingi memiliki seorang anak laki-laki bernama Wlingi Kusuma, dan seorang anak gadis bernama Diyah Wasiati, yang kemudian dikenal dengan julukan Putri Ayu Limbasari.
Keindahan Sungai Patrawisa
Ada dua jalur air yang menuju satu hulu sungai Patrawisa.
Jalur utara merupakan bendungan besar yang berjarak kurang lebih 1 kilo meter dari titik temu jalur air sebelah Selatan.
Sedangkan jalur Selatan mengalir di sela punggung bukit yang bermuara pada hulu sungai Patrawisa.
Jalur Selatan inilah yang dipercaya masyarakat setempat sebagai tempat meninggalnya Patrawisa. Airnya sangat jernih dan deras.

Karena saya belum mandi pagi waktu saya berkunjung, tak berpikir lama saya menanggalkan pakaian dan langsung mandi di sungai Patrawisa.
Saya mandi di bagian sungai yang tidak begitu deras, tapi airnya sangat bening dan dingin.
Rasanya lebih dari dua jam saya baru mentas. Sebab mandi di sungai ini, saya merasa begitu tenang. Begitu diam dan begitu sunyi. Begitu lepas luka-luka batin. Luka-luka pikiran.
Sungai ini sangat cocok untuk mandi bagi orang introvert seperti saya.

Seteah mentas, saya mengenakan kembali pakaian saya. Usai menghabsikan beberapa batang kretek, saya beranjak pulang.
Tidak hanya sungai, hutan di sekitar lokasi juga bernama hutan Patrawisa. Berbagai jenis pohon di hutan Patrawisa ini terpelihara dengan baik.
Jika kau akan berkunjung ke sana, jangan lupa sampahnya di bawa pulang ya? Biar hutan dan sungai Patrawisa tetap terjaga kelestariannya.
Tinggalkan Balasan