Badai Pagi
sebelum genap membaca matahari
dari barat, angin menghujam
menusuk sunyi di kepalaku
bertulang badai, berlidah pedang
“kapan kau akan selesai memahami janji?”
ada yang pecah di kepadatan langit-langit kamar
orang-orang berburu jawaban
dari kenestapaan masa kanak-kanak
sepekat malam mengajikan lagu-lagu pujian
pada alam dan dirinya sendiri
aku yang bergegas menggali tanah
agar segera dilupakan oleh kenangan
terjaga badai pagi
menagih janji yang belum selesai ku pelajari
Purbalingga, 23 Februari 2013
Mercusuar Sunyi
selebihnya adalah bangunan-bangunan sunyi
memadat pada setiap riwayat jalan yang memanjang di mataku
telah ku tandai sebagai tiang
bagi langit-langit yang lelah berdiri
juga mercusuar sunyi ini
tegak berdiri di pantai-pantai yang lepas di dadaku
riwayatnya adalah nasib yang sedang menyisir takdir
antara hidup atau mati
ku panggil camar dengan telapak tangan
agar pecah sunyi di segenap ombak yang lupa diam
ku selimuti bulan yang kedinginan
agar patah garis-garis sunyi di segenap cahaya
sayang, mercusuar sunyi ini kokoh menghujam
di dasar jantung dengan sedalam-dalamnya palung
lalu apa hendak ku tembangkan?
selain bait sunyi yang sempurna, memilih garis kematian
Purbalingga, 28 Februari 2013
Menghitung Sunyi
sunyi ini lebih jelas ku hitung
ketimbang maut yang berarak di setiap depa tanah
lebih mudah ku simpulkan deritnya
ketimbang kematian yang melengking pada setiap kemarau
lalu apa?
selain sebatang tubuh senyap
dan daun-daun runtuh pada helai keniscayaan
dikepung keramaian yang asing dengan segenap hipokrit di dalamnya
menjamur bagai musim dipagi hari
lantas apa?
selain tragedi yang melumpuri wajah sunyi
dari kesaksian jalan-jalan tak bernama
dan aku semakin sempurna menghitung sunyi
dengan jari-jari nasib yang kian tak ramah
hingga terbaca pada setiap dinding-dinding candi
sebagai pancaran air mata lara
Purbalingga, 28 Februari 2013
Menaksir Hitungan Maut
aku sedang menaksir hitungan maut di tanganku sendiri
ku baca dengan seksama
setiap nafas yang berhembus pada gigil garis-garisnya
ku tabung dengan rapi
sengkurat jejaknya yang luput ku kecap
angin melolong
di tepian ngarai waktu yang tengah memburu jantungku
parau,
bagai embun yang gagal mengenang daun-daun pagi
aku yang masih menaksir hitungan maut
sesekali jatuh di kesenyapan dingin bibirmu
bilangan-bilangan tak bernama
tersungkur di setiap pucuk-pucuk jari
asin keringatmu menyulut api
membakar dingin subuh yang mengendap di lidahku
tungku yang ku tinggalkan bertahun-tahun
menunggu giliran mati sewaktu-waktu
aku yang terus menaksir maut di dadaku
lunglai,
menangkup gambar sunyi wajah Tuhan
lelah tak berkesudahan
gending tangis masa lalu berdesingan
menikam hening paling malam di kepalaku
gagap di tengah medan tempur
antara maju atau mundur
menghitung maut di pelukan
Purbalingga, 15 Maret 2013
Pasar
ada yang pecah di dasar telinga
huruf-huruf riuh di tengah pasar
melengking
menikam lorong jantung paling dalam
kata-kata bertabrakan
di serambi warung dan los-los pasar
aku yang limbung
disayat helai sunyi daun-daun bawang
berjajar di tepian pisau nasib yang menajam
bayar dan ambillah
sebab kami adalah barang yang asing dengan diri kami sendiri
juga suara-suara yang bergegas itu
hilir tak bertepi
muara yang dikutuk jadi penanti
ku jadikan bising pasar
menjadi sebentuk sunyi paling tersembunyi
bagi kembara para nabi-nabi
Purbalingga, 17 Maret 2013
Pada Huruf-Huruf Sunyi Serupa Tiang Pinisi
Aku telah menyebutnya pada huruf permulaan
Serupa tiang pinisi atau jangkar yang lelap bermimpi
Tapi tak ku temukan rupamu di sana
Meski alif dan ya berusia senja di lidahku
Aku kerap mengecupnya
Sebelum pagi atau setelah onani
Tapi tak ku rasakan merah bibirmu
Seperti Muhammad mengjarkannya pada gembala
Aku telah menuliskannya
Pada papan-papan tak bertiang
Serupa ba ta tsa
Tapi aku belum juga mengakrabinya
Meski ranggas jati jatuh pada musimnya
Pada derit sunyi yang kerap kau kecap
Aku ingin mengembalikan huruf-hurufmu
Sebelum aku lenyap
Serupa abu di atas tungku
Purwokerto, 14 Januari 2013
Tinggalkan Balasan