Terimakasih Orang-Orang Baik, Aku Masih Hidup

Aku tak pernah menduga. Juga tak menyana, harus meringkuk di atas bed Rumah Sakit (RS) selama seminggu.   

Dua hari di ruang Cempaka 4, dua hari di ruang ICU, dan sisanya aku habiskan di ruang Tulip 2, hingga genap 7 hari.

Pada awalnya aku merasakan panas sekujur badan. Hampir semalaman aku tidak mampu tidur.

Paginya, istri mengajak berobat ke rumah sakit. Bersama kaka, kami berangkat Rabu pagi ke RS. Sampai sana, aku lalu diperiksa di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) selama beberapa waktu.

Aku pikir—seperti halnya istriku—hanya cuma disuntik atau dikasih obat saja. Tapi dokter jaga bilang saya harus rawat inap.

Maka, jadilah aku rawat inap.

Terima Kasih Orang Baik

Ruang Cempaka 4

Pada awalnya aku dirawat di kamar Cempaka 4. Kamar ini cukup luas dan nyaman untuk beristirahat.

Juga ada satu kursi Panjang yang bisa digunakan untuk idur bagi penunggu.

Dua hari berlalu, dan pada malam ketiga, aku mengalami sesak nafas dan merasa sangat kedinginan.

Seluruh badan kaku. Bahkan aku tidak bisa menggerakan tangan sama sekali. Aku berpikir waktu itu apakah aku kena stroke?

Pagi hari masih terasa kaku meski aku sudah bisa menggerakan anggota badan.

Atas analisa dokter pada kunjungan pagi, paru-paruku bermasalah. Paru-paruku—setelah dirongten— menunjukan gejala, tanda-tanda berbeda dari paru-paru normal.

Intensive Care Unit

Maka, setelah berdiskusi dengan istriku, dan atas izin istriku, aku dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU).

Aku pasrah. Aku hanya berdoa dalam hati semoga sakit ini segera selesai.

Masuk ke ICU, baju dan celanaku diganti menggunakan pakaian RS. Seingatku, ada beberapa pasien ICU yang berada di sebelah kiri dan kananku.

Pada hari kedua di ICU, aku menunjukan peningkatan kesehatan yang siginfikan, sehingga aku dipindah ke ruang Tulip 2, ruang ketiga yang aku gunakan untuk beristirahat, hingga diizinkan pulang.

Terimakasih Orang-Orang Baik

Ada satu hal yang aku ingat hingga aku pulang ke rumah: begitu banyak orang-orang baik di sekitarku ketika aku sakit.

Melalui tulisan ini, aku ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, seagung-agungnya, atas doa yang mereka panjatkan untuk kesembuhanku.

Aku berterimakasih kepada—tentu saja—istriku yang nyaris tidak tidur menungguku di RS.

Aku bersyukur dalam kondisi down, istriku tetap mendukungku, merawatku. Aku ingat dia menangis saat aku masuk ruang ICU.

Lalu, kedua orang tuaku yang jauh-jauh datang ke RS setelah menempuh perjalanan selama tiga jam. Juga paman, bibi, dan handai taulan yang menemani ibuku.

Aku selalu—kata istriku—menyebut ibuku saat tensi badanku panas dan abnormal. Aku bertemu ibu sebentar di ICU. Setelah memeluk dan menciumnya, ibu pamit pulang.

Juga teman-teman kerjaku.

Aku berterimakasih yang seagung-agungnya kepada mereka yang datang dan mendoakan untuk kesembuhanku.

Lantas teman-teman se desaku. Aku berterimakasih yang sebesar-besarnya kepda mereka. Pada Gadis Mungil, yang aku tunggu bunganya.

Bahwa salah satu hikmah atas peristiwa ini adalah masih banyak orang-orang baik di sekitarku.

Sekali Lagi Terimaksih

Sesungguhnya aku ingin menuliskan nama-nama semua orang-orang baik yang mendoakanku. Namun, sepertinya tidak mungkin menulsikannya satu per satu saking banyaknya.

Aku hanya—sekali lagi—mengucapkan terimakasih yang tiada tandingnya kepada orang-orang baik di sekitarku.

Semoga, aku selalu konsisten untuk menjaga kesehatanku sendiri.

Tulis Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *