
Kamu adalah manusia. Aku juga manusia. Mereka juga manusia.
Tapi aku dan mereka meremehkanmu. Menyepelekanmu.
Berpura-pura baik kepadamu, bahkan menjermuskan hidupmu ke dalam kubangan kenistaan sebagai manusia.
Aku menipu mereka. Mereka juga menipuku. Padahal kau ingin menjadi manusia. Seperti aku, seperti mereka.
Tapi manusia, terlanjur menjadi mahluk yang menakutkan bagimu.
Demikianlah yang aku rasakan ketika membaca novel Tertolak Sebagai Manusia karya Osamu Dazai.
Betapa sulitnya menjadi manusia. Kata Yozo dalam novel ini. Kejujuran, kebohongan, kepura-puraan, dan kemunafikan manusia, dikuliti habis-habisan oleh sang tokoh dalam novel ini.
Kisah
Novel Tertolak sebagai Manusia karya Osamu Dazai ini berisi kisah perjalanan hidup Oba Yozo.
Oba Yozo terlahir dari keluarga berada. Kendati demikian, kehidupan masa kecil hingga dewasanya, dipenuhi penderitaan dan keputusasaan.
Yozo memiliki pandangan aneh terhadap manusia. Baginya, manusia itu mahluk menyeramkan yang begitu mudah menipu, dan berpura-pura. Karena itu Yozo selalu merasa ketakutan pada manusia.
Agar bisa bergaul dan berbaur dengan manusia, ia berperan menjadi badut.
Dengan berperan sebagai badut, ia bisa menutupi ketakutannya terhadap manusia. Dengan demikian ia bisa berbaur bersama manusia lainnya.
Meski demikian berperan menjadi badut lama kelamaan membuatnya melakukan kesalahan yang tidak mampu ia diperbaiki. Ia juga menjadi berpura-pura.
Kesalahan-kesalahan inilah yang membuat Yozo menyimpukan bahwa dirinya tidak berhasil menjadi manusia.
Waktu masih anak kecil, Yozo tidak bisa secara jujur menunjukkan pribadinya kepada orang lain.
Agar membuat orang lain senang, dan tertawa, Yozo selalu berpura-pura menjadi anak periang dan lucu.
Semakin dewasa, Yozo tidak bisa terlepas dari lingkaran setan kepura-puraan manusia di sekelilingnya. Bahkan Yozo kian menambah masalah dan polemik dalam hidupnya.
Dalam kondisi memburuk, Yozo kerap memiliki niat untuk bunuh diri.
Karena itu, pada akhirnya ia melampiaskannya dengan mengkonsumsi rokok, minuman keras, bahkan obat-obat terlarang, dan masuk rumah sakit jiwa.
Cara berceritanya rada-rada mirip Fyodor Dostoevsky gak si ni Osamu Dazai? pic.twitter.com/HWRpEfvOgb
— Anak Desa (@anakdesalagi) May 15, 2026
Semacam Kesimpulan
Novel Tertolak Sebagai Manusia karya Osamu Dazai ini bagi saya sangat menggambarkan kondisi kemanusiaan hari ini.
Meski ditulis tahun 1948, novel klasik Jepang ini bisa digunakan sebagai alat kontemplasi betapa manusia adalah mahluk yang sangat rumit.
Kerumitan yang sejatinya dibuat oleh manusia itu sendiri, melalui istilah-istilah seperti maju, modern, dengan standar-standar tertentu, yang pada hakikatnya justru nirmanusiawi.
Persiapkan mental jika kamu ingin membaca noveli ini ya?
Kutipan
Aku selalu bergidik ketakutan di hadapan manusia. Tak mampu sedikit pun merasakan percaya diri dalam kemampuanku untuk bicara dan bertindak seperti manusia.
aku sering merasa bahwa menggali perasaan seorang Wanita akan lebih rumit, bermasalah dan tidak mengenakan dibanding meneliti pikiran terdalam seekor cacing tanah.
Tapi aku merasa seolah aku telah menjadi sampah Masyarakat sejak lahir. Aku tahu bahwa aku seperti orang lain, tapi tampaknya aku kekurangan kemampuan untuk mencintai orang lain
Tinggalkan Balasan