“Dis, denting piano Luke Willies sungguh menyayat hati”.
Biyas membatin ketika menyadari di luar hujan menyisakan gerimis sore itu, dan rindu yang perlahan merayapi jantungnya.
Ia bertanya kepada dirinya sendiri. Mengentalkan keyakinan tentang perasaan yang menurut pendapat pribadinya adalah rasa sayang. “Benarkah aku menyayangingnya?”.
Biyas—lengkapnya Biyas Mahatma—adalah lelaki introvert yang sudah lama mengagumi Gadis Mungil yang ia temui pada pagi menjelang siang dibulan Desember, di sebuah tempat wisata. Sebuah pertemuan yang begitu tiba-tiba.
Gadis mungil itu—kenang Biyas—memiliki mata Sakura. Kulit Tirai Bambu, dan tubuh jenjang semampai. Dan dia, baru saja berumur tujuh belas tahun pada tanggal sebelas bulan Desember.
Pada pertemuan pagi menjelang siang waktu itu, Gadis membalut dirinya dengan kerudung warna orange yang ujungnya sering ia sibakkan ke belakang, berpadu dengan baju putih bermotif bunga dan rok panjang semi coklat.
Dia mengingatkan Biyas pada Jane Eyre dalam novel karya Charlotte Bronte. Dan Edward Fairfax Rochester, pikir Biyas, adalah dirinya, lelaki berkepala empat yang sudah bersitri.
Gelap merayap. Langit sore di luar kamar Biyas kian hitam.
***
Biyas ke dapur membuat kopi, lalu duduk di teras rumah sambil merokok. Ia melanjutkan mengenang Gadis Mungil itu.
Biyas membeli bunga mawar berwarna merah. Gadis bilang ia sangat menyukai bunga. Di kamarnya, kata Gadis, ada bunga yang di letakan di atas meja, dan beberapa di dinding kamar.
“Apakah kamu suka novel?” tanya Biyas setelah memberikan mawar.
“Sejujurnya aku lebih suka bunga ketimbang buku,” timpal Gadis sambil memamerkan senyung yang kepalang manis.
Keduanya kemudian berjalan-jalan mengitari tempat wisata yang berbentuk taman. Pada sebuah bangku kayu di depan kendang Rusa, mereka duduk.
Biyas bertanya pada Gadis bagaimana sekolahnya, pelajarannya, dan kapan lulus. Gadis hanya menjawab sekolahnya lancar, pelajaranny bagus, dan kemungkinan bulan Agustus baru lulus.
Pada hari berikutnya, kenang Biyas, ia kembali bersepakat untuk bertemu dengan Gadis di dekat air terjun bertingkat di hutan Damar yang lebat.
Di tempat itu, Biyas semakin mengaggumi kecantikan Gadis yang dibalut baju berwarna hitam. Gaya bicaranya mengingatkan Biyas pada seorang perempuan bernama Nastenka dalam kisah Malam-Malam Putih karya Fyodor Dostoevsky. Halus, lembut, dan penuh tekanan.
Seharian itu, mereka menghabiskan waktu dengan membasahi tubuh di bawah air terjun. Mereka pulang setelah diperingatkan oleh penjaga karena hujan mulai turun yang menyebabkan air terjun akan banjir.
Pada hisapan batang rokok yang terakhir, Biyan kembali mengenang pertemuannya pada sebuah siang di sebuah warung jus.
Gadis terlihat tersedu saat Biyas memasuki warung untuk membeli Jus. Kemudian Gadis berlari mendekatinya. Semakin jelas air matanya jatuh.
Melihat Gadis menangis, Biyas memeluknya. Menenangkan sesungguknya. Menghapus air matan Gadis yang makin deras jatuh di pipinya.
Aku belum siap, kata Gadis. Aku belum siap pacaran, lanjut Gadis, ketika Biyas hendak bertanya kenapa. Mungkin ada sesorang yang telah menyatakan cintanya kepada Gadis. Biyas membatin.
Setelah tenang, dan setelah Jus pesanan sudah dibuat, Biyas pamit. Ia meminta Gadis untuk bercerita melalui Whatsapp saja.
Malamnya, Gadis berkirim banyak cerita melalui Whatsapp. Pada balasan terakhir setelah Gadis bercerita banyak, Biyas hanya membalas; “Aku akan melindungimu”.
Sejak saat itu, Biyas dan Gadis saling berkirim kabar melalui pesan. Bertanya bagaimana nilai pelajaran sekolahnya. Bertanya bagimana kabar Biyas.
“Aku ingin bertemu,” pesan Biyas melalui Whatsapp pada suatu malam.
“Aku tidak bisa. Aku takut,” balas Gadis, yang dilanjutkan dengan pesan bahwa ada seseorang yang mengingatkannya untuk menjauhi Biyas.
Biyas terdiam.
Ia sadar siapa dirinya. Bagaimana statusnya. Kesadaran itulah yang membuatnya membalas pesan Gadis dengan; “Ya sudah”.
***
Malam semakin larut. Hujan Kembali runtuh.
Biyas membuka hand phone dan melihat-lihat akun TikToknya. Melihat-lihat status temannya. Pada status yang ketiga, ia melihat Gadis membuat status foto dirinya disertai kalimat “I can’t stop loving you,”.
Biyan terkejut.
Apakah Gadis sudah berpacaran? Bukankah ia bilang belum siap? Bukankah dia ingin fokus sekolahnya?
Perlahan, api membakar jantungnya. Biyan Mahatma tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Secepat itukah Perempuan jatuh cinta?
“Apa yang terjadi dengan perasaanku?” Biyas bertanya dalam batin. “Aku hanya ingin berteman, Dis, hanya ingin bersahabat denganmu, tidak lebih,”.
Biyas kemudian masuk ke kamarnya. Jarum jam menunjukan angka dua belas.
Ia Kembali mendengarkan denting piano Luke Willies. Instrumen berjudul Everything Works Out in The End. Lalu, ia menulis pada buku hariannya.
Aku tidak tahu harus memulai dari mana untuk mengakhiri catatan ini, Dis?
Mengingat—sekali lagi—aku bukan siapa-siapamu.
Meski aku menganggapmu sebagai sahabat, tapi belum tentu dengan dirimu, dengan anggapanmu.
Meski aku menimbangmu sebagai kawanku, tapi jarang kau balas pesan whatsappku belakangan ini.
Waktu begitu cepat berlalu ya Dis? Begitu cepat menguap dan lenyap.
Tapi ada yang tak mampu ku lupa. Tak mampu menguap, dan tak mampu lenyap. Itu adalah caramu memperlakukanku, teman-temanmu, dan sahabat-sahabatmu.
Kau begitu memanusiakan manusia Dis? Menganggap siapapun yang dekat denganmu adalah setara, tanpa membedakannya.
Hal lainnya yang tak mampu ku lupa adalah caramu memandang dunia. Pandanganmu lain dengan gadis-gadis seumuranmu di rumah kita.
Banyak yang pandangannya terkurung oleh adat dan tradisi. Oleh orang-orang yang merasa menjadi wakil Tuhan melalui ayat-ayatnya.
Yang terakhir, adalah kemampuanmu di depan kamera. Tak banyak yang bisa sepertimu dis, tak banyak. Sayangnya, aku tak mungkin merekammu lagi. Membuat video seperti tujuan awal kita.
Dan, itu Dis, bulu lembut di keningmu itu.
Ah sudahlah….
Ada yang mesti ku pikir lagi, Dis? Melepas dendam dan sakit hati. Dan berjuang membendung benci. Memohon kepada Tuhan untuk menjaga tanganku ini.
Aku yang harus pulang Dis, ke rumah. Ke tengah keluarga kecilku, yang sudah lama aku lupakan. Yang tak sebentar aku tinggalkan.
Aku yang sempat tak lagi menghiraukan senyum anak gadisku. Canda dan tawa anak lelakiku. Serta ceramah panjang lebar istriku.
Aku harus pulang Dis, harus pulang.
Banyak pelajaran yang aku ambil darimu. Dan akan aku kisahkan kepada keluargaku. Kepada anak gadisku. Tentang bagaimana seharusnya memandang dunia.
Tentang bagaimana memperlakukan sahabat. Tentang bagaimana mencintai bunga.
Dan mawar merah itu, Dis, mawar merah yang aku berikan kepadamu waktu itu, kini menjadi sepi sekuntum mawar.
Tertanda, Biyas Mahatma
Biyas terdiam. Tak mampu melanjutkan tulisan. Ia tutup buku harian itu, lalu meraih novel Malam-Malam Putih. Membaca kisah Nastenka yang menyayat hati di atas kasur.
Tak dinyana, Nastenka sekejam itu.


Tinggalkan Balasan