Kasidah Batu Kali
I
sejak semula akulah kasidah batu kali itu
sumbang dan penuh sangsi
memintal sajak bagi daun-daun liar yang runtuh dari kesilaman silsilah
ikan-ikan bernyanyi lagu wirid. sesekali, arus kali tenang mengamini
sejak semula akulah kasidah batu kali itu
melantunkan lagu anggur dan vodka
pada setiap perjamuan-perjamuan di rumah Tuhan, di mana tarian-tarian mabuk kerap melahirkan ayat-ayat beraroma getir
seseorang mengukir suara di ujung toa, merasa nadanya persis nada Tuhan yang ku akrabi hingga tulang sumsumnya. padahal, ia tengah menyanyikan lagu ganjil dikedalaman telinga para tetamu yang tengah dijamu Tuhan
sejak semula akulah kasidah batu kali itu
mabuk dan tersungkur jatuh
menggenapi sembilan puluh sembilan arus nama Mu yang menderas di ceruk jantungku
II
aku masih saja menjadi kasidah batu kali itu setelah ku arungi keluasan samudra yang kau hentangkan pada selembar buku suci. ku tabung segala kata warisan nenek moyang. agar lidahku takzim memainkan nama Mu pada setiap permulaan lima waktu. agar langit tak kembali tuli. bagi doa-doa yang ku panjati dengan diam.
namun mata Mu menjadi asing. sketsa wajah yang ku lukis dengan tinta darah nadi Mu menjadi buram. nama-nama yang ku hafal dengan asin keringat tasbih di sepertiga malam ku pun runtuh ke tanah. redam terhempas badai keramaian
kini tubuhku sekarat. meski aku masih menjadi kasidah batu kali itu.
jasad dengan dada bara api. pucat dilumat zaman yang semakin menjauh dari tubuh Mu. Lantas dapatkah ku teguk kembali anggur dan vodka yang ku peras dari dada langit Mu?
agar kita dapat mabuk, dan menari intim sepanjang malam perjamuan di rumah sunyi Mu?
Purbalingga, 21 Maret 2013
Epilog
Adakah yang paling menyakitkan ketimbang merasakan segenap keasingan yang tiba-tiba menyergap? Katakan kepada ku apa yang paling membuat kita mabuk ketimbang kehilangan kekasih yang dengan susah payah kita rayu?
Aku benar-benar khilangan kawan? Tongkat yang semestinya ku jadikan mata jalan raib dihempas badai gurun. Jadilah aku seorang musafir yang tak tahu kemana arah angin berhembus.
Hanya pada sebentuk puisi saja brangkali, aku mencoba kembali membenarkan langkah kaki yang terseok-seok. Membetulkan ingatan yang tiba-tiba bengkok oleh bujuk rayu keramaian dunia.
Berharap agar Tuhan menjadi ramah bagi tubuh dan fikiranku sebelum Dia membenci lantas menagih nyawa dari kerangkeng tulang-tulang jasadku.
Dan, inilah gugusan kata-kata rayuan yang ku susun dengan segenap harap agar Tuhan sudi mengampuni segala dosa-dosaku.


Barisan kata yang indah namun menghadirkan kesadaran ttg betapa Mahanya DIA….. 😊🙏
Kadang sulit dikatakan. Tapi aku membahasakannya dengan kalimat yang aku sebut puisi. Terima kasih Mba Irma.