Kami,—saya dan istri—di malam Minggu yang sebentar-sebentar hujan ini, tengah mebaca novel.
Istri membaca novel Ronggeng Dukuh Paruk hasil pikir Ahmad Tohari. Sementara aku tengah membaca novel Emile Zola bertajuk The Ladies Paradise a.k.a Surga Kaum Wanita.
Kami bersepakat untuk menata buku-buku yang berserakan di pojok ruang setelah tamat dibaca.
Istri kemudian membeli rak sederhana yang sangat ringkih. Terbuat dari susunan besi—tepatnya alumunium—yang disambung-sambung membentuk sebuah lemari, dan menghasilkan dua belas rak buku.
Rak-rak itu dibungkus dengan palstik—ya sepertinya plastik—agak tebal, berwarna biru dengan motif lingkaran-lingkaran kecil berwarna putih.
Awalnya rak itu cukup kuat menahan beban buku-buku koleksi kami.
Lama-kelamaan, beberapa alumunium penyangga buku tampak bengkok seperti kelelahan menanggung beban, dan beberapa bagian plastik juga robek.
Memang kami menambah koleksi buku. Sehingga besi-besi itu tak lagi mampu menahan beban. Al hasil, kami—saya dan istri—meletakan buku-buku di lantai dekat rak-rak itu.
Menyadari koleksi buku yang sudah lumayan banyak—untuk ukuran orang desa tentunya—, dan terinspirasi oleh Jane Austen (salah satu penulis dari Inggris abad 18, yang buku-buknya juga kami koleksi, tepatnya enam buku karya Jane Austen yang kami koleksi), aku berfikir untuk menyebut tumpukan buku-buku sebagai perpustakaan.
Dan kami, menamai perpustakaan kecil kami dengan mana Pustaka Kadiwirya.
Kenapa Dinamai Pustaka Kadiwirya?
Sebentar, sebelum jauh membahas, barangkali ada pembaca yang bertanya; buat apa mengoleksi buku? Buat apa membaca buku?
Ya kami paham betul.
Di zaman yang serba digital ini, semakin banyak orang yang melupakan buku. Lebih intens dengan gadget dan TikTok atau Instagram. Bahkan berjam-jam.
Kami paham betul hobi kami memang nyleneh. Kami aku itu.
Tapi kami tidak akan menuliskan alasannya kenapa kami hobi membaca buku. Mungkin lain waktu kami atau saya tuliskan di sini.
Kembali ke Pustaka Kadiwirya.
Kadiwirya, atau nama lengkapnya Darus Kadiwirya, adalah salah satu lurah yang pernah memimpin desa kami. Nama itu kami sematkan diperpustakaan kami sebab pada saat kepemimpinan lurah Kadiwirya inilah, saya—sebagai perangkat desa—menemukan dokumen tulis pertama dalam sejarah desa kami.

Dokumen-dokumen tertulis itu sangat rapi. Meski ditulis dengan tinta, namun aku jatuh cinta dengan bentuk tulisannya. Sungguh indah. Tulisan itu tidak hanya sebentuk gugusan rangkaian huruf a, b, c, d, melainkan juga sebuah seni. Indah sekali.
Dan saya berani bertaruh, tidak akan ada yang sanggup menulis seindah itu hari ini.
Nah, kerapian dokumen, keindahan gaya tulisan inilah yang memberanikan saya untuk mengambil nama Kadiwirya sebagai nama perpustakaan kecil kami, sekaligus sebagai bentuk penghormatan saya—tentu sebagai perangkat desa—terhadap jasa-jasa literasi beliau di desa kami.
Koleksi Buku
Perpustakaan kecil kami, Pustaka Kadiwirya, baru memliki 250-an koleksi buku. Terdiri dari koleksi buku sejarah, filsafat, sastra, dan buku biografi.
Sebagian besar koleksi sastra seperti novel karya Pramoedya Ananta Toer, Laksmi Pamoentjak, Muchtar Lubis, Eka Kurniawan, Ratih Kumala, Ahmad Tohari dan penulis lainnya.
Sementara koleksi novel dari luar negeri seperti Fyodor Dostoevsky, Jane Asuten, Charlote Bronte, Gabriel Garcia Marquez, George Orwell, Victor Huga, Alexander Dumas, Charles Dickens, Virgina Wolf, Mario Puzo, Emile Zola, Ane Bronte, Mark Tawin, dan penulis klasik lainnya.
Untuk koleksi buku genre filsafat di perpustakaan Pustaka Kadiwirya—yang sudah ada sekarang—meliputi Plato, Aristoteles, Frederich Nietszche, Karl Marx, Charles Darwin, dan lainnya.
Selebihnya, koleksi buku sejarah, dan biografi tidak saya tulis di sini. Intinya lumayan banyak.

Terima Kasih Eyang Kadiwirya
Saya,—kami—menyebutnya eyang Kadiwirya.
Orang desa yang mendedikasikan hidupnya untuk mengabdi—sebagai lurah—kepada masyarakat desa sejak 1921-1946.
Lurah yang memulai menggunakan tulisan latin untuk mencatat setiap dokumen pemerintahan. Juga keindahan gaya tulisan tangannya. Juga dinamika sejarah pemerintahannya.
Juga atas inspirasinya.
Untuk eyang Kadiwirya, TABIK!

