Obituari Mimpi
Berhentilah sejenak sayang?
Persetubuhan ini kelewat panjang
Lagi pula, malam belum pamit pulang
Jeda lah sebentar sayang?
Keringat ini berjatuhan
Lihatlah, mimpi itu kembali menginterupsi
Padahal waktu telah mengemasi
dan nisan pun telah kau tanam rapi
jika itu adalah tanda,
mari sama-sama berkirim doa
sebab, kita pernah mencatatnya
pada sehelai kertas di halaman pertama
sudahlah sayang, itu cuma mimpi
mari kita lanjutkan persetubuhan ini
semoga ia terlahir kembali
: katamu, sebelum lenguhan panjang menyudahi
Telaga, 25 Desember 2012
Senja Di Bukit Prenjagan
I
Katakan padanya, senja
Tentang gulma yang kau singgahi sore tadi
Ketika angin lupa menulis cerita
Pada pematang yang enggan bersetubuh dengan petang
Atau, jika lidahmu gagu
Titipkan saja kepada angin
Tentang ode sederhana
Yang ku peras dipertiga malam
Ketika dingin menguliti tulang
Ah, senja
Bagaimana kau lupa?
Bukankah kau mengenalnya sebelum adam menodai sorga?
atau ketika hawa mengajak bersenggama?
Sedang aku,
aku hanya tau dari bait puisinya;
dari goresan eliginya;
dari fragmen yang ia tabung pada catatan pinggirnya
hanya sebuah ode, senja?
bukan biografi
bukan pula catatan kaki
atau bahkan obituari
katakan padanya, senja
lalu pulanglah segera!
Ceritakan pada tidurku
Tentang gadis serupa cinderela
Yang menolak sepatu raja, dan bergembira dengan pujangga
Jika dia menutup telinga,
Kembalilah kepadaku, kembalilah
Karena pematang masih terbentang
Meski angin lupa menulis cerita
Tentang sebuah ode yang sederhana…
II
Ini tentang impen-impen, senja
yang aku pungut dari serakan kata-kata
dan aku susun merupa makna
ah, senja?
Rokokku habis, kopikku berkurang
Kata-kataku miris. Aku pamit pulang…
Purbalingga, Menjelang 1 Desember 2012
Senjakala di Bukit Prenjagan
Dan Layang-layang itu serupa ikan. Terbang di ufuk mata. Ibu tak perah bercerita, atau mungkin aku alpa. Tentang ikan berekor panjang, yang terbang di langit senja.
Ah, aroma angin menusuk ingatan, barusan. Mengajak mataku nanar. Membongkar catatan-catatan. Berupa mukadimmah, atau roman yang tak kunjung aku tamatkan.
Hai, siapa pula kau tanah? Jangan sesekali mengajaku menyesali, atau mendendam pada alam yang telah menetaskan jemariku ketika pagi enggan beranjak pulang. Sebab, aku pasti kembali meski aku belum pergi. Menyetubuhi hari yang menantang birahi, ketika senja memulai merias diri. Di sini, di langit ingatan senjakala bukit Prenjagan.
Telaga, 22 Desember 2012
Selepas hujan pamit pulang

