Belakangan ini saya sedang tertarik untuk membaca novel-novel klasik. Salah satunya adalah novel karya Louisa May Alcott (1832-1888) berjudul Little Woman.
Novel yang pertama terbit pada 30 Septeber 1868 tersebut telah dialihbahasakan ke setidaknya 50 bahasa di dunia.
Saya sendiri membaca novel Little Woman terjemahan dari penerbit Mizan Pustaka edisi ketiga cetakan Mei 2025.
Little Women berkisah tentang empat gadis bersaudara anak Tuan dan Nyonya March yaitu Margaret, dipanggil Meg, anak pertama dan tertua yang usianya 16 tahun.
Anak kedua bernama Josephine, biasa dipanggil Jo, yang berusia 15 tahun. Jo adalah seorang gadis yang suka membaca buku dan menulis dengan karakter tomboy. Ia bercita-cita menjadi penulis.
Anak ketiga Bernama Elizabeth, biasa dipanggil Beth. Usia 13 tahun. Anak introvert, dan sangat mencintai musik, dan pandai bermain piano.
Anak keempat bernama Amy, si bungsu berusia 12 tahun. Periang yang menyukai seni, terutama melukis.
Kisah
Singkat kisah, keempat gadis itu ditinggal oleh ayahnya, Tuan Mach, yang bertugas sebagai tentara dan ikut berperang di Amerika.
Kondisi ekonomi keluarga March sedang melemah, membuat empat gadis itu harus bekerja untuk mencari uang. Meg bekerja sebagai pengajar di keluarga King, Jo bekerja menjadi pengasuh bibinya Bernama Bibi March yang bagi Jo sifatnya kurang menyenangkan, sedangkan Beth membantu ibunya di rumah, dan Amy yang masih sekolah.
Kehidupan keempat gadis itu mulai berubah ketika mereka berkenalan dengan Theodore Laurence, atau dipanggil Laurie. Jo lebih suka memanggil Theodore Laurence dengan nama Teddy.
Theodore Laurence, ataub Laurie, atau Teddy, adalah pria kesepian dan hidup terkurung di rumah mewah milik kakeknya. Kedua orangtua Laurie telah meninggal, dan diasuh oleh kakeknya.
Jo yang penasaran, bertekad untuk berkenalan dengan Laurie. Setelah menjadi teman, Jo mengajak Meg, Beth, Amy untuk berteman dengan Theodore Laurence.
Perkenalan dan pertemanan itulah yang kemudian membuat empat gadir Nyonya March bersemangat untuk menggapai mimpi mereka masing-masing, meski kadang keempat gadis bersaudara itu kerap berantem, terutama Jo dan Amy karena Amy membakar buku catatannya.

Meski demikian, berkat Nyonya March, mereka yang berantem kembali bersatu, saling meminta maaf dan memaafkan sebagai saudara.
Suatu hari, Tuan March, ayah keempat gadis bersaudara itu masuk rumah sakit. Maka sang ibu harus menemani ayah mereka yang sedang di rawat di sebuah rumah sakit di New York.
Sejak ditinggalkan ibu, mereka berempat menjadi memahami tanggung jawab masing-masing. Mereka mengerjakan semua kebutuhan dengan hanya dibantu Hannah, pembantu rumah tangga Nyonya March.
Meski kadang berputus asa karena merasakan beban bekerja, keempat gadis bersaudara itu semakin menyadari tugas berat ibu mereka.
Apalagi ketika Beth jatuh sakit terpapar cacar yang membuat Amy harus mengungsi di rumah bibi March.
Ketika Beth sembuh, dan ibu mereka pulang ke rumah, mereka bersatu kembali. Setelah ayah mereka pulang, Meg dikenalkan dengan seorang pemuda bernama Brook yang juga guru pribadi Theodore Laurence, dan kemudian saling jatuh cinta. Meg dan Brook akan menikah ketika Meg sudah berumur.
Little Woman memang mengangkat kisah sederhana. Namun, pada masing-masing karakter dalam tokoh novel tersebut menjadi pelajaran penting bagaimana sebuah keluarga tidak saja mampu bertahan dalam kondisi ekonomi terpuruk, namun juga menjadi keluarga yang benar-benar saling menghormati dan mencintai.
Sebuah keluarga yang dicita-citakan setiap keluarga tentunya.
Secara keseluruhan, novel ini alurnya sangat lambat. Namun beberapa bab terakhir menjadi anti klimaks novel tersebut.
Jatuh Cinta Sama Jo
Secara khusus, aku jatuh cinta sama karakter Josephine alias Jo. Gadis tomboy ini memang mendominasi jalannya cerita. Jo serasa menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut, meski masing-masing karakter mendapatkan ceritanya masing-masing.
Yang menarik bagi saya adalah, karena Jo satu-satunya anak gadis Nyonya March yang menulis. Jo menulis cerita. Jo menerbitkan tulisannya di koran. Jo akhirnya memang menjadi penulis yang dicintai keluarga.
Dan saya suka sekali daya khayal Jo dalam menulis cerita.


Tinggalkan Balasan