Mengemasi Nasib
Seperti yang ku bilang sebelum kita berciuman dulu, waktu tak pernah jujur bercerita. Tentang alamat hujan yang pernah kita tanyakan kepadanya. Seperti yang kita bilang sebelum kau memagut bibirku, timur dan barat tak lagi setia. Tak lagi serupa belati bermata dua.
Mari kita kemasi saja. Dengan kain putih atau kerudung hitam sebelum kau melumat mataku. Sebujur nasib yang tak bernama. Selaksa buih yang letih menari di pasir putih. Lalu kita gali tanah sedalam akar. Agar ia mekar menjadi daun yang setia menabung luka. Kemudian mari sama-sama berdoa; “Requiem Aeternam Deo”
Menaksir Hitungan Maut
aku sedang menaksir hitungan maut di tanganku sendiri
ku baca dengan seksama
setiap nafas yang berhembus pada gigil garis-garisnya
ku tabung dengan rapi
sengkurat jejaknya yang luput ku kecap
angin melolong
di tepian ngarai waktu yang tengah memburu jantungku
parau,
bagai embun yang gagal mengenang daun-daun pagi
aku yang masih menaksir hitungan maut
sesekali jatuh di kesenyapan dingin bibirmu
bilangan-bilangan tak bernama
tersungkur di setiap pucuk-pucuk jari
asin keringatmu menyulut api
membakar dingin subuh yang mengendap di lidahku
tungku yang ku tinggalkan bertahun-tahun
menunggu giliran mati sewaktu-waktu
aku yang terus menaksir maut di dadaku
lunglai,
menangkup gambar sunyi wajah Tuhan
lelah tak berkesudahan
Selalu Saja Aku Adalah Sunyi Yang Jatuh Dari Matamu
Kepada Gadis Mungil Bermata Sakura
Selalau saja aku adalah sunyi yang jatuh dari matamu. Seperti ombak yang mati ketika karang mengerang. Selaksa pasir yang letih berdesir sebelum doa yang kau bungkus dengan kulitmu lenyap ditelan angin.
Jalan ini tak lagi jujur. Tak lagi mujur.
Kepada apa mesti aku berterus terang. Perihal lalu lalang jejak yang ku simpan di sepanjang jalan. Hidup terlanjur berwajah angkuh. Dan musim tak lagi lazim bergulir di ceruk matamu. Kau berkata; aku percaya pada daun-daun yang setia meranggas pada waktunya. Juga matahari yang sudi berganti dengan bulan telanjang. Atau hujan yang kerap menetas di jantungku sebelum musim berganti.
Lantas, kenapa selalu saja aku adalah sunyi yang jatuh dari matamu?


Tinggalkan Balasan