
Sebagai orang desa, dan sebagai sesama mahluk Tuhan, saya turut berduka atas matinya seekor kerbau milik Kang Solih.
Kabar ini sangat mengejutkan bagi saya mengingat Kang Solih adalah satu-satunya orang yang masih memelihara kerbau di desaku.
Mirisnya, kerbau yang mati adalah kerbau yang difungsikan sebagai babon atau bibit yang kerap melahirkan anak-anak kerbau.
Bagi sebagian orang, atau bahkan kebanyakan orang, kerbau mati adalah hal yang biasa, sebagaimana setiap mahluk Tuhan yang pasti akan mati.
Tapi bagi saya, kerbau bukan saja hewan peliharaan yang dipelihara lalu dijual atau disembelih. Lebih dari itu, kerbau memiliki sejarah dan kontribusi besar bagi peradaban desa.
Kerbau Adalah Kearifan Lokal
Orang desa, wabil khusus petani, telah berteman lama dengan kerbau. Mereka menggunakan tenaga kerbau untuk membajak sawah melalui hubungan simbiosis mutualis.
Setelah diperas tenaganya untuk membajak sawah—tentu di bawah terik matahari yang membakar kulit—petani memberinya rumput untuk hidangan kerbau. Atau digembalakan pada sore harinya, sebelum makan malam tersedia di kendang mereka.
Hampir tidak ada yang mengagumi kehebatan kerbau ketimbang mengaggumi mesin tracktor. Mesin ini dianggap modern karena kecepatannya membajak sawah.
Kendati demikian, jarang yang mengakui bahwa sesungguhnya tracktor memiliki dampak buruk bagi kelestarian sawah.
Taruhlah misalnya asap yang dihasilkan dari mesin tracktor, dan sisa-sisa bahan kimia lainnya yang jatuh di sepanjang pembajakkan sawah. Sedikit atau banyak, hal ini membuat sistem ekologi sawah tidak sehat.
Kerbau memang lambat, akan tetapi secara ekologis mampu menjadi penyeimbang. Tahi kerbau memiliki banyak manfaat untuk kesuburan sawah.
Andaipun ketika sedang digunakan untuk membajak sawah, dan kerbau berak, tentu saja kotoran kerbau sekaligus bisa menjadi pupuk.
Karena itu, coba bandingkan kesuburan sawah pada saat menggunakan kerbau dan saat menggunakan tracktor.
Maka demikianlah, kerbau menjadi salah satu hewan yang menjadi alat bertahan hidup bagi manusia, dan sebaliknya. Menjadi salah satu kearifan lokal desa.

Kang Solih
Kang Solih—nama lengkapnya Musolih—adalah salah satu tetangga saya yang cukup konsisten memelihara kerbau.
Sudah sejak lama, ia dan keluarga secara turun-temurun memelihara kerbau. Selain sebagai hewan peliharaan, kerbau Kang Solih juga menjadi sumber pendapatan ekonomi bagi keluarganya.
Decade 2008, Kang Solih memiliki tujuh ekor kerbau. Belakangan, kerbau-kerbau itu tinggal empat atau lima.
Sebab sesekali, jika kebutuhan ekonomi mendesak, keluarga Kang Solih menjualnya.
Sebelumnya, di desaku ada banyak warga yang memelihara kerbau. Namun, ketika mesin bajak mulai marak, banyak dari mereka yang menjual kerbaunya.
Namun, bagi Kang Solih, amanat untuk tetap memelihara kerbau tetap ia laksanakan. Hingga kemarin, salah satu kerbau babon mati karena faktor yang belum diketahui.
Kerbau yang mati itu menurut Kang Solih dijual dengan harga dua juta lima ratus rupiah. Kini, kerbau Kang Solih tinggal empat ekor.
Tinggalkan Balasan