Puisi ini aku tulis pada tahun 2013 untuk sahabatku Irma Senja, seorang blogger yang-di tengah keterbatasan fisik-tulisannya cukup menginspirasi saya. Belakangan aku ketahui Mba Irma-demikian aku memanggilnya-telah melewati beberapa operasi, dan mampu melewatinya.
Isyarat Musim
Kepada Sahabat Irma Senja
dan pada setiap hujan yang runtuh di pintu-pintu jantungmu
adalah isyarat musim yang melengking dari riuh sunyi
mungkin kemarau
atau barangkali dingin matahari
bersaksi atas nama air mata
senyum yang kau susun pada gugusan senja
adalah huruf-huruf kelu
rubuh ke tanah bersama tawa yang bertahun-tahun kau timbun
pada sebongkah embun
sebelum siang mencurinya dari dahan-dahan luka menahun di tubuhmu
paragraf-paragraf yang mengalir di setiap sudut bibirmu
adalah nyanyian air yang senantiasa berzikir
diam
seriuh tawa si kecil bertembang hujan di beranda halaman
teruslah menulis, senja?
sebelum huruf menjadi tua
atau sebelum aku berangkat
mencari doa-doa paling mujarab
agar alam sudi mengecap
isyarat musim yang tak terbaca
Purwokerto, menjelang siang beranjak, 2013
Semacam Epilog
“Menulislah dari hatimu,maka kau akan menyentuh hati pembacamu”. Demikian katanya dalam profil blognya.
Dan aku pun tersentuh. Betapa tidak, coba baca tulisan “Ketika Aku Bicara Pada Hujan di 11 Februari”. Tersirat dan tersurat jelas bahwa tulisan tersebut merupakan bentuk kepasrahan si penulis kepada Tuhan melalui media hujan.
Dari sana saya memahami bahwa meski terlihat cantik ragawi laiknya perempuan-perempuan lain, namun sejatinya si penulis ini tidak seperti kelihatannya.
Kanker telah menjadi “sahabat” akrab yang sesekali dapat menjadi “musuh” dalam hidupnya. Atau bacalah tulisan hati “Surat Untuk Tiara”. Berbentuk surat kepada Tiara yang berkisah tentang rasa kepercayaan diri bahwa meski si penulis berbaring di salah satu bangsal rumah sakit, namun ia merasa baik-baik saja.
Keyakinan, rasa percaya diri, dan doa inilah yang telah membuat si penulis ini menjadi begitu tegar dengan sebenar-benarnya meski dengan segala keterbatasannya.
Ya, dialah Irma Senja. Melalui blog pribadinya di Dunia Senja ia hendak berkabar pada dunia khususnya pada sesama penderita kanker bahwa menerima dan hidup dengan apapun kepahitan dan ujian adalah bukan kekalahan, tapi kemenangan sebenarnya.
“Teruslah menulis sahabat?”
Maret 2026
Aku tak sengaja berselancar di akun TikTok ketika aku menemukan akun TikTok milik sahabatku Irma Senja. Seketika, aku scrolling dan terlintas begitu jelas saat awal ngeblog dulu.
Irma Senja adalah blog yang aku jadikan rujukan untuk menulis dari hatiku sendiri. Menulis apa saja yang memang merupakan suara hati.
Dari sinilah kemudian aku-meski jungkir balik-tetap menulis melalui blog. Mencoba istikomah tetap memiliki blog untuk membuat ruang ekspresi di belantara media sosial yang tanpa rasa. Lalu aku meninggalkan jejak komentar di salah satu postingan TikToknya.
Aku akan menuliskan kenangan ngeblog bareng Irma Senja pada tulisan berikutnya. Bahagia sekali rasanya aku bisa kembali bertemu secara daring dengannya.
Sehat selalu mba Irma Senja, dan keluarga. Wah, Sean udah dewasa ya, mba?


Terima kasih sahabat, membaca catatan ini membuatku mengingat bahwa aku pernah sangat mencintai aktifitas menulis. Dan betapa menulis khususnya blog pernah menjadi caraku melewati berbagai kesulitan hidup…. Menjadi terapi jiwaku.
Jadi teringat bahwa tulisanmu dulu menguatkanku juga, seorang sahabat blogger yg tidak tahu keberadaan nyatanya tapi tulisan tulisannya menginspirasi dan menghibur jg menguatkan.
Terima kasih mengingat Dunia senja, dan terima kasih sillaturahminya kembali 😊🙏
Sama-sama Mba Irma. Mari menulis lagi Mba.