Belakangan,—tepatnya bulan April 2026 ini—aktivitas vulkanik gunung Slamet kian meningkat.
Menurut Badan Geologi Kementrian ESDM, peningkatan suhu kawah serta aktivitas gempa yang cukup tinggi di dalam perut gunung Slamet membuat aktivitas pendakian ditutup sementara.
Bahkan, PVMBG secara resmi telah merekomendasikan untuk memperluas jarak aman bagi masyarakat dari dua kilometer menjadi tiga kilometer dari puncak.
Hasil analisis citra termal kawah Gunung Slamet, mengalami peningkatan suhu maksimum dari sekitar 247,4 selsius 13 September 2024, menjadi 411,2 selsius 2 April 2026.
Sebaran anomali suhu panas pada 2024 masih disekitar bagian pusat kawah, sedangkan pada 2026 ini, berkembang menjadi lebih luas dan membentuk pola melingkar di sekitar dinding kawah.
Kabar ini tentu membuat para pendaki harus menunda rencana untuk mandaki gunung Slamet, seperti halnya saya yang berencana mendaki gunung Slamet pada Agustus mendatang.
Sembari beroda agar kondisi gunung Slamet Kembali normal, saya mengajak teman-teman untuk melihat foto-foto gunung Slamet pada jaman penjajahan Belanda.
Foto-foto gunung Slamet yang dibidik oleh fotografer Belanda itu saya dapatkan di situs-situs daring Belanda.
Gunung Slamet Dalam Bidikan Fotografer Belanda














Lekas Membaik Slamet
Menurut data yang dilansir dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sejarah Letusan gunung Slamet terekam mulai tahun 1772.
Sedang di laman vsi.esdm.go.id, letusan Gunung Slamet yang juga menghasilkan aliran lava dan hujan abu terjadi kembali pada tahun 1930, tahun 1932, tahun 1953, tahun 1955, tahun 1958, tahun 1973, dan tahun 1988.
Selepasnya, gunung ini hanya menunjukkan peningkatan aktivitas semburan abu, dentuman suara, dan peningkatan kegempaan.
Lekas membaik gunung Slamet. Aku akan mengunjungimu Agustus mendatang.


Tinggalkan Balasan