Foto-Foto Gunung di Jawa Masa Penajajahn Belanda

Gunung Slamet

Soal dokumentasi pada era kolonial, rasanya kita patut berterimakasih sama Belanda.

Betapa tidak, meski menjajah, Belanda dengan rapi mencatat dan mendokumentasikan kondisi gunung-gunung di pulau Jawa.

Saya yang suka mendaki, kadang tidak menyadari bahwa gunung—misalnya gunung Merbabu—pernah difoto oleh penjajah.

Dan hari ini, setelah berselancar di situs-situs Belanda, saya menemukan beberapa dokumen foto gunung-gunung di pulau Jawa melalui situs Arsip Nasional Belanda.

Misalnya gunung Merapi, Slamet, Bromo, Papandayan, Cikurai, dan lain-lain yang—meskipun fotonya berwarna hitam putih—sangat bagus dan estetis.

Tidak hanya itu, foto-foto tersebut juga disertai dengan nama fotografer, tahun pemotretan, dan keterangan foto.

Salh satu situs Belanda yang menyediakan foto gunung-gunung di Jawa misalnya laman arsip nasional Belanda atau national archief.

Selain gunung-gunung di Jawa, laman tersebut juga menyediakan ribuan dokumentasi tertulis maupun dokumentasi foto visual gunung-gunung lain di Indonesia secara umum.

Gunung Slamet

Gunung Slamet berada di Jawa Tengah, yang mencakup wilayah kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, dan Brebes. Secara vulkanologis, gunung dengan ketinggian 3.428 mdpl tersebut masih aktif hingga sekarang.

Letusan puncak Gunung Slamet difoto dari wilayah Tegal tahun 1949 (Dok. Foto Spaarnestad, Arsip Nasional Belanda)

Foto lain menunjukan letusan gunung Slamet yang direkam Associated Press menggunakan pesawat militer Belanda.

Letusan Gunung Slamet difoto dari wilayah Tegal tahun 1949 (Dok. Foto Spaarnestad, Arsip Nasional Belanda)

Gunung Merapi

Gunung Merapi terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah antara Kabupaten Magelang, Boyolali, dan Klaten, serta Daerah Istimewa Yogyakarta Kabupaten Sleman. Gunung dengan ketinggian 2.930 mdpl ini merupakan gunung api paling aktif di Indonesia saat ini.

Gunung Merapi difoto tahun 1934 (Koleksi Foto Spaarnestad, Arsip Nasional Belanda)
Gunung Merapi difoto dari gunung Merbabu tahun 1934 (Koleksi Foto Spaarnestad, Arsip Nasional Belanda)
Foto Gunung Merapi, seminggu sebelum letusan pada 18 Januari 1954. (Koleksi Foto Spaarnestad, Arsip Nasional Belanda)

Gunung Gede

Gunung Gede berada di Provinsi Jawa Barat, tepatnya di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Gunung ini mencakup wilayah tiga kabupaten yaitu Bogor, Cianjur, dan Sukabumi.

Gunung dengan ketinggian 2.958 mdpl tersebuttermasuk gunung api aktif yang masih menunjukkan aktivitas vulkanik hingga saat ini.

Foto Uap belerang dan uap panas yang menyengat di bekas danau kawah Kawah Lanang gunung Gede tahun 1947 setelah letusan pada tahun yang sama. (Koleksi Foto Spaarnestad, Arsip Nasional Belanda)

Gunung Cikuray

Gunung Cikuray terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Letaknya berada di perbatasan antara kecamatan Bayongbong, Cikajang, dan Dayeuhmanggung.

Gunung dengan ketinggian 2.821 mdpl ini terkenal sebagai salah satu gunung tertinggi di Jawa Barat.

Gunung Cikuray merupakan gunung tipe stratovolcano yang tidak aktif alias istirahat, dan tidak memiliki kawah aktif.

Foto Gunung Cikuray dari pantulan air sawah. Tahun foto tidak diketahui. (Koleksi Foto Spaarnestad, Arsip Nasional Belanda)
Foto Gunung Cikuray dari udara. Tahun foto tidak diketahui. (Koleksi Foto Spaarnestad, Arsip Nasional Belanda)

Gunung Tangkuban Perahu

Gunung Tangkuban Perahu berada di perbatasan Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, dan Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Gunung aktif ini berada di ketinggian 2.084 mdpl dengan udara sejuk, di mana pengunjung dapat melihat kawah aktif .

Kawah Ratu gunung berapi Tangkuban Perahu tahun 1947. (Koleksi Foto Spaarnestad, Arsip Nasional Belanda) .
Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard mengunjungi gunung Tangkuban Perahu tanggal 31 Agustus 1971. (Koleksi Foto Spaarnestad, Arsip Nasional Belanda) .

Gunung Papandayan

Gunung Papandayan terletak di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Gunung dengan ketinggian sekitar 2.665 mdpl ini berstatus masih aktif hingga saat ini.

Gunung Papandayan memiliki beberapa kawah aktif seperti Kawah Mas dan Kawah Baru yang terus mengeluarkan uap belerang.

Meskipun aktif, gunung ini tetap aman dikunjungi dan menjadi destinasi wisata pendakian.

Akhir Vegetasi gunung Papandayan. Terlihat para pendaki sudah dekat dengan kawah tahun 1941. (Koleksi Foto Spaarnestad, Arsip Nasional Belanda).
Kawah gunung Papandayan tahun 1941. (Koleksi Foto Spaarnestad, Arsip Nasional Belanda).
Letusan belerang di kawah raksasa gunung Papandayan tahun 1934. (Koleksi Foto Spaarnestad, Arsip Nasional Belanda).

Gunung Ciremai

Gunung Ciremai berada di Provinsi Jawa Barat, tepatnya di perbatasan tiga kabupaten yaitu Kuningan, Majalengka, dan Cirebon.

Gunung dengan ketinggina 3.078 mdpl ini berstatus masih aktif.

Kawah gunung Ciremai tahun 1937. (Koleksi Foto Spaarnestad, Arsip Nasional Belanda).

Gunung Salak

Gunung Salak terletak di Provinsi Jawa Barat, Indonesia, dan membentang di perbatasan dua wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi.

Gunung api ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) dan sering menjadi tujuan pendakian.

Gunung dengan ketinggian mencapai 2.211 mdpl ini berstatus gunung aktif.

Foto Gunung Salak. Tahun tidak diketahui. (Koleksi Foto Spaarnestad, Arsip Nasional Belanda).

Gunung Bromo

Gunung Bromo terletak di Provinsi Jawa Timur, dan merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Gunung berapi aktif ini berada di perbatasan empat wilayah kabupaten: Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang

Gunung dengan ketinggian sekitar 2.329 mdpli ini terkenal dengan kaldera lautan pasirnya yang luas dan pemandangan matahari terbit yang ikonik

Foto udara Gunung Bromo tahun 1938. (Koleksi Foto Spaarnestad, Arsip Nasional Belanda).
Letusan Gunung Bromo tahun 1934. (Koleksi Foto Spaarnestad, Arsip Nasional Belanda).

Penelitian Gunung

Belanda tidak main-main dengan keberadaan gunung-gunung di Indonesia. Geolog dan Botanist Belanda intensif meneliti gunung di Jawa, sejak awal hingga pertengahan abad ke-19 (sekitar 1810-an–1830-an).

Tokoh penting dalam penelitian ini seperti Caspar Reinwardt mencapai puncak Gunung Gede pada 1819, disusul penjelajahan ekstensif Frans Junghuhn mulai 1830-an

Berkat penelitian mereka, kini kita menjadi paham arti penting dan bahayanya gunung, agar bisa mengantisipasi ketika terjadi letusan.

Bagikan Tulisan Ini Yuk?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *