Desember telah berlalu.
Namun langit di bulan Maret tahun ini masih menumpahkan hujan. Sungguh sebuah anomali. Langit cerah pagi hari, menjelma mendung hitam sore hari. Lalu bumi basah setelahnya.
Ada yang menari-nari dalam kepalaku, seiring deru hujan yang membasahi jendela kaca teras rumah sore ini. Sebuah kenang-kenangan yang turun dari ingatanku.
Sebuah ingatan tentang seorang gadis mungil bermata Sakura—yang entah kenapa—selalu hadir ketika hujan turun sore hari.
Wajahnya yang cerah, keningnya yang basah, tubuhnya yang jenjang, dan segala tentang gadis mungil itu, seperti menari-nari di kelopak mataku.
Seribu kata dan kalimat telah ku tuliskan. Hanya sekedar untuk melupakannya. Namun, hujan deras sore ini sangat menyiksa. Seperti menggali kembali segala kenangan yang telah aku kubur ketika gadis itu meninggalkan aku sendirian.
Elegi
Sejatinya telah aku tuliskan ode untuknya. Sebuah lirik pujian yang tak henti-hentinya mengagumi dirinya. Tapi semuanya tak berarti, kendati gadis mungil itu membacanya.
Kini aku menuliskan elegi. Sebuah lirik ratapan menyedihkan tentang sebuah harapan yang gagal akan persahabatan. Persahabatan yang benar-benar aku niatkan sebagai manusia.
Pesan-pesanku tak terbalas seperti dulu. Kalaupun terbalas, itu butuh waktu lama. Waktu yang membuatku jengkel hanya karena bertanya kabar.
Pada akhirnya aku membaca alam. Memahami suara hujan. Merasakan hembusan angin utara, selatan, dan barat. Tanda-tanda alam ini seperti berkata kepadaku; “berhentilah menjalin persahabatan dengannya”.
Meski kadang aku meragukan tanda-tanda alam itu, pada satu titik aku meyakininya.
Seperti keyakinan bahwa gadis mungil bermata Sakura itu benar-benar telah lupa padaku, telah melenyapkan kehadiranku, pada hari-hari ketika bunga-bunga jingga dan merah ku kirimkan kepadanya.
Dan kini semuanya hampa. Seperti hari-hari dan malam-malamku sebelum mengenal gadis mungil itu.
Seandainya gadis mungil itu memahami bahwa aku hanya ingin punya teman, punya sahabat hanya untuk bercerita.
Pada akhirnya alam memang benar. Memberiku tanda untuk membaca, lalu memberiku kesimpulan bahwa gadis mungil itu telah pergi meninggalkan semuanya. Melupakan segenap persitiwa dan kenangan. Untuk selama-lamanya.
Dan aku sekarang sangat membenci hujuan. Karena hujan mengingatkanku pada sosok jenjang gadis mungil bermata Sakura itu.
Hujan berhenti. Azan berkumandang. Dan perlahan, aku juga akan melupakannya seperti gadis mungil itu melupakanku.
Melupakan semuanya.


Tinggalkan Balasan