Dis, kamu tahu, hujan yang kemarin sore mengguyurmu, adalah luka yang ku kisahkan kepadamu.
Karena itu,—setelah aku mengisahkannya—aku mengajakmu pulang dibawah guyuran hujan. Dibawah dingin luka menganga yang membuatmu menggigil.
Bukan di kafe. Bukan di bar. Bukan pula di lounge mewah seperti orang-orang itu. Tapi di bawah gubuk plastik aku bercerita. Sambil sesekali kita memandang hujan yang membasahi sebagian baju kita.
Ah, betapa miskinnya aku.
Sejatinya, Dis, aku hendak bercerita banyak. Tapi lidahku kaku. Kelu. Gagu.
Aku tak pandai bicara. Aku tak lihai merangkai kata untuk memulainya. Tapi percayalah, cerita-cerita, kisah-kisah, yang hendak aku paparkan kepadamu sejatinya kian membuncah di kepala.
Tentang Kesalahanku Itu Dis
Baiklah, aku kisahkan saja di sini.
Bahwa mba yu mu—istriku itu—marah besar kepadaku.
Prihal aku yang membuat video dengan teman perempuanmu itu mebuatnya merasa dihianati. Disakiti. Dibohongi. Disia-siakan.
Aku menyangkal.
Semua yang dilakukan dengan teman perempuanmu hanya sebatas membuat video belaka. Tak ada pretensi lain seperti yang disangkakan kepadaku.
Prasangka bahwa dalam video aku terlihat bahagia, terdengar mesra, dan riang gembira, itu semua memang aku setting. Tentu demi estetika. Bukan demi yang lain.
Ah, andai saja dia paham soal videografi ya dis?
Tapi sudahlah.
Aku akui saja prasangka-prasangka yang ditujukan buatku. Aku akui saja bahwa itu memang kesalahnku. Kebodohanku, dan ketidakberdayaanku.
Buat apa bertengkar?
Aku Kesepian Dis

Kamu tahu Dis, jauh sebelum peristiwa yang terjadi belakangan ini, sejatinya aku sangat kesepian di dalam dunia ini.
Aku tak tau kepada siapa aku bercerita. Kepada apa aku meluapkan cerita hari kemarin, hari ini, dan hari besok.
Banyak orang-orang, teman-teman yang tertawa, bicara lantang, gaduh di sekelilingku, tetap saja aku merasa sepi. Di dalam keramaian aku masih merasa sepi.
Sepi ini sangat menyakitkan, Dis, sangat menyakitkan.
Kadang aku berpikir apa mungkin ini penyakit? Katakanlah soal kelainan psikologis. Tapi aku merasa tidak demikian.
Aku hanya merasa kesepian.
Aku tak mengerti mengapa kesepian ini pernah membuatku berpikir untuk bunuh diri. Mengakhiri hidup dengan segelas racun tikus, atau sebotol baygon. Atau apalah.
Kepada siapa aku minta tolong, Dis, kepada siapa?
Aku hanya butuh teman, sahabat, kawan, handai tualan, atau apalah namanya, untuk aku bisa bercerita.
Cuma bercerita, Dis, bercerita. Itu saja.
Aku Pikir Itu Kamu
Awalnya aku berpikir itu kamu Dis?
Orang yang bisa menemaniku bercerita. Membunuh kesepian sebentar saja.
Tapi aku salah. Aku luput.
Aku paham. Umur kita terpaut jauh. Tapi nggak papa kan aku bercerita? Ngga papa kan, aku bercerita—misalnya tentang—dunia yang tak ramah ini, dunia yang acuh ini? Nggak papa kan?.
Sejujurnya, dibalik setiap petuah yang ku sampaikan kepadamu, aku merasa seperti menceramahi diriku sendiri. Menertawakan diri sendiri. Tapi ketika itu pula lah kesepianku hilang sejenak. Berganti ramai nada bicaramu. Nada tawamu.
Namun, setelah kita pulang ke rumah kita masing-masing, seketika itulah kesepianku kembali menyergap. Membuatku berpikir kembali soal racun tikus dan pembersih Baygon.
Lebay?
Bisa jadi kau berpikir demikian. Silahkan saja Dis, silahkan!
Tapi, di dalam dunia yang sudah sangat individualis ini, kadang kita baru sadar bahwa seseorang memang membutuhkan pertolongan ketika semuanya sudah tiada. Ketika semua sudah jadi kenangan.
Di situlah baru kita paham bahwa banyak orang-orang yang sejatinya membutuhkan pertolongan.
Bahkan cuma untuk menolong orang yang jiwanya kesepian.
Ah, aku terlalu banyak bicara ternyata.

Terima Kasih Ya Dis, Terima Kasih
Aku sadar sesadar-sadarnya Dis, kita tidak mungkin akan sering bertemu untuk bercerita. Untuk sekedar saling sapa.
Bahkan, mungkin kita akan bertemu sebagai orang yang tak saling kenal, meski pernah ada cerita di antara kita.
Dan buatku, ini sungguh menyakitkan. Sungguh menambah derita kesepian.
Sakit.
Sakit banget Dis, sakit banget.
Aku berharap kamu tidak merasakan “penyakit” ini, Dis, “Penyakit” kesepian yang menjijikan ini. Sebangsat-bangsatnya penyakit.
Kehadiranmu dalam beberapa hariku akan aku catat sebagai kenangan. Sebagai kisah yang hanya aku dan kamu yang memahaminya, merasakannya.
Terima kasih Dis, terima kasih sudah menyempatkan catatan dalam lembar kesepian jiwaku.
Sakit banget dis, sakit banget!
Sakiiiiitt!!!
Hug me please, hug me.


Tinggalkan Balasan