Hari gelap. Inilah yang dirasakan Bapak pada detik-detik terakhir Ibu. Dalam rumah dengan dominasi kayu meranti yang menyimpan bau lembap masa lalu, Bapak berdiri dengan hati bagai dihantam batu besar yang membuat hatinya semakin gusar. Ia menggendong Basri yang saat itu masih berusia empat tahun.
Suara tangisan berlomba-lomba untuk memburu napas Ibu yang beradu dengan titah dan diikuti kidung lirih dukun kampung. Bapak semakin gusar. Bibirnya bergumam merapal doa-doa untuk keselamatan Ibu. Tepat tiga menit berlalu, suara erangan Ibu dan tangisan bayi yang membuat bongkahan batu besar dalam hati Bapak meluncur jatuh tergantikan dengan rasa lega dan bahagia.
Rukmini. Itulah nama yang diberikan Bapak untuk anak keduanya, bayi perempuan cantik yang datang bersamaan dengan kepergian Ibu, meninggalkan manis yang pahit dalam balutan lembut sebuah kenangan.
Tiga tahun berlalu.
Suasana kampung tepian sungai dengan panorama wilayah tambang yang menggerogoti hutan, menggerus tanah, dan membentuk lubang besar menganga. Ini menjadi pemandangan biasa bagi Bapak dan warga kampung yang tinggal di sana.
Pagi di kampung itu tak pernah benar-benar sepi. Bahkan sebelum matahari muncul, dentum mesin dari arah tambang sudah memantul di permukaan sungai, masuk ke sela-sela papan rumah dan membangunkan siapa saja yang masih terlelap.
Basri kini berusia tujuh tahun. Ia tumbuh menjadi anak periang yang menghangatkan rumah kecil itu. Pikirannya lebih matang dari anak seusianya; ia menjaga Rukmini dan mengurus rumah setiap kali Bapak pergi bekerja.
Saat suara dentuman mesin pertama terdengar biasanya Bapak sudah bangun. Ia membasuh muka dengan air sungai yang ditimba semalam, lalu berangkat sebelum cahaya memenuhi kolong rumah. Kadang ia mengangkat karung batu, kadang membantu sopir menurunkan drum solar, kadang hanya menunggu dipanggil untuk pekerjaan apa saja yang ada hari itu. Upahnya jarang bisa ditebak. Ada hari mereka makan lauk, ada hari hanya nasi dan garam.

Basri sering berdiri di depan rumahnya sambil menggendong Rukmini. Dari sana ia melihat anak-anak sebaya berjalan melewati jalan tanah dengan seragam merah putih dan tas yang lebih besar dari punggung mereka.
Seorang anak melambaikan tangannya dan menoleh ke arah Basri.
“Ri, sekolah!” ujarnya.
Basri tersenyum, lalu menggeleng pelan dan menjawab, “nanti, nunggu Bapak.” Padahal ia tahu, Bapak selalu pulang ketika sekolah telah bubar. Basri menunggu sampai barisan itu hilang di tikungan sebelum akhirnya ia masuk kembali ke dalam rumah.
Sumber kehidupan di rumah mereka berasal dari sungai di belakang kampung. Pagi hari warnanya kecokelatan, dan jika diinjak dasar lumpurnya mengeluarkan bau logam yang menempel sampai sore. Semua orang tetap mengambilnya. Didiamkan, direbus, lalu dipakai lagi.
Bapak menimba pelan, menuangkannya ke jeriken, lalu menutup tutupnya agak lama, seolah menunggu sesuatu di dalam air itu berubah. Di hari-hari itulah Rukmini mulai belajar berjalan. Langkahnya yang pendek-pendek dan sering miring, membuat Basri selalu siap menahan dan waspada.
“Pelan-pelan,” katanya tiap kali adiknya hampir duduk sebelum waktunya.
Mereka mengira itu hal biasa. Bahkan ketika Rukmini terhuyung di lantai yang rata. Belum dua langkah, ia duduk lagi. Bukan jatuh keras, hanya seperti kehilangan arah dan keseimbangan.
Suatu sore dukun kampung datang memeriksa. Telapak tangannya menempel di kaki Rukmini, lalu di dahinya. “Badannya saja yang belum kuat. Nanti juga bisa lari-lari sendiri,” ujarnya.
Bapak mengangguk, lega yang ia paksakan. Malamnya ia menepuk-nepuk kaki Rukmini lebih lama dari biasanya. Dan itu Bapak lakukan untuk malam-malam berikutnya.
Waktu berjalan tanpa terasa. Rukmini memang bertambah tinggi, tetapi keseimbangannya tidak ikut tumbuh membersamai. Sendok di tangannya kerap jatuh sebelum sampai ke mulut saat ia makan, air minum rutin menetes ke bajunya, dan setiap berdiri ia seperti menginjak lantai kayu yang lapuk dan tak pernah benar-benar diam.
“Kok kaki dan tangan Rukmini sering bergetar, Pak, apakah Rukmini nggak apa-apa?” tanya Basri suatu sore.
Bapak tak menjawab. Ia hanya meraih bahu kecil Rukmini, merasakan getaran halus yang tak mampu berhenti.
Beberapa hari kemudian ia membawa Rukmini ke puskesmas kecamatan dengan menumpang bak terbuka. Jalan tanah yang panjang dan berbatu tak menentu membuat tubuh anak itu terus bergoyang di pelukannya.
Petugas memeriksa cukup lama sebelum berkata pelan, “perlu diperiksa di kota, Pak.” Bapak mengangguk dan mengucapkan terima kasih, meski di kepalanya terus berpikir bahwa ongkos perjalanan akan lebih besar dari seluruh upahnya jika dikumpulkan dalam setahun.
Malam-malam berikutnya Bapak selalu pulang lebih larut dari biasanya. Kadang membawa upah tambahan, kadang hanya bau solar yang menempel di baju. Apa saja ia kerjakan, mulai dari mengangkat batu, membersihkan bak truk, bahkan membantu menurunkan muatan sampai dini hari.
Beberapa hari kemudian Bapak justru tak berangkat kerja. Bapak pergi dari satu tempat ke tempat lain, dari satu juragan ke juragan lain, tak kenal lelah untuk menanyakan tumpangan ke kota, menimbang ongkos yang selalu lebih mahal dari perkiraannya.
Radio usang yang sudah tidak berfungsi dijual, disusul gelang tipis peninggalan Ibu. Uang itu ia lipat rapi di dalam kaleng bekas, dihitung berulang-ulang setiap malam dan jumlahnya selalu kurang.
Suatu malam Bapak duduk di depan rumah. Langit yang gelap memunculkan sinar rembulan dengan pelan yang membawa bayangan lampu proyek. Basri duduk di sampingnya sambil memeluk lutut.
“Besok Rukmini sembuh kan, Pak?” Bapak menatap langit cukup lama sebelum menjawab lirih, “iya… besok.”
Subuh datang dengan udara lebih dingin dari biasanya. Napas Rukmini pendek-pendek, lalu berhenti tanpa suara. Bapak mengangkatnya perlahan, sama seperti saat pertama kali ia menerima tubuh kecil itu tiga tahun lalu. Dari kejauhan mesin tambang kembali hidup, mengisi pagi yang tak lagi sama.
Sesudahnya hari-hari tetap berjalan sebagaimana mestinya. Bapak masih menimba air setiap pagi. Terkadang ia menyiapkan tiga gelas di lantai sebelum menyadari, satu gelas itu tak lagi menemui bibir peminumnya. Basri masih menyisakan ruang di tikar, menaruh satu bantal kain di sana sebelum tidur.
Tak ada yang benar-benar berubah di rumah itu, hanya ruangnya terasa lebih lapang dari sebelumnya.


Tinggalkan Balasan