Dear Gadis Mungil
Aku baru saja terjaga.
Di luar, suara hujan masih deras. Jarum jam menunjukan angka lima lebih empat menit sore.
Aku duduk lalu meraih novel yang baru saja selesai aku baca.
Rasa-rasanya aku masih merasakan betul penderitaan Denies. Gadis piatu yang bertarung melawan kerasnya kota Paris bersama dua adiknya, Jean dan Pele, demi melanjutkan hidup.
Rasa-rasanya, aku juga masih merasakan sisa air mata deras di sudut mataku yang mengalir usai membaca novel itu sebelum aku tertidur.
Aku berjalan menuju jendela kaca ruang tamu. Di sana, aku masih melihat air bandang tumpah dari langit.
Dan di jalan depan rumah, banjir menggenangi. Luber sampai di pelataran halaman.
Dalam deru hujan yang entah kapan berhenti itu, tiba-tiba pilu muncul dari dalam palung jantungku yang paling dalam.
Aku ingin bercerita. Tapi entah dengan siapa.
Dear Gadis Mungil
Di antara benturan hujan dan atap seng yang mengerikan, aku teringat padamu.
Aku ingin bercerita kepadamu. Kamu—Gadis Mungil—yang tiba-tiba hadir dalam perjalanan hidupku. Yang juga hilang seketika di hadapanku, seperti kelebat petir menggelgar menyambar tubuhku dan menyisakan kenganan.
Tapi bagaimana aku akan bercerita padamu?
Satu-satunya manusia yang aku pikir akan mendengarkan ceritaku pun kini pergi. Hilang entah di mana rimbanya. Tanpa kata, tanpa kabar.
Tidak ada seorangpun yang mau mendengarkan ceritaku, meski istriku sekalipun.
Tak ada orang, tak ada teman, tak ada siapa-siapa.
Dalam kondisi seperti itu, aku ingin pergi jauh. Jauh sekali.
Bukan mati, tapi mungkin naik gunung, atau mendengarkan desir angin dan demburan ombak di laut.
Kau, Gadis Mungil, aku tidak bermaksud mengungkit kisah yang lalu.
Kisah yang begitu tak terduga. Begitu singkat meninggalkan jiwaku yang sendirian.
Aku juga tidak bermaksud melibatkanmu, menyeret jiwa mudamu dalam pelik persoalan tuaku.
Dear Gadis Mungil
Jika sudah begini, aku hanya bisa menulis.
Menulis apapun. Entah dibaca atau tidak. Olehmu atau bahkan olehku.
Misalnya, saat ini aku menulis tentang peristiwa saat aku bersamamu di beberapa tempat. Peristiwa yang terukir begitu indah dalam ingatan. Peristiwa yang kita paksa untuk lenyap dari masa lalu kita.
Dear Gadis Mungil
Belakangan aku melihat SW-mu.
Rupanya, kau benar-benar akan melanjutkan kuliah. Aku turut bangga. Ikut senang membacanya. Teramat bahagia jika kau diterima di perguruan tinggi impianmu.
Bagaimanapun kondisiku, apapun keberadaanku, aku tetap mendoakanmu. Mendoakan yang paling baik buatmu. Buat Gadis Mungil yang bahkan tidak pernah membalas WA-ku lagi.
Kemarin, hari ini, atau hari besok aku tidak tahu kau pergi kemana. Bersama siapa.
Ngapain aja.
Ketika aku melihat motor warna pink parkir di sebuah kios, aku pun turut senang. Senang sekali.
Dear Gadis Mungil
Teruslah hidup.
Teruslah berlari mengejar dan mewujudkan cita-citamu.
Jika kau memang harus melupakan kisah kita, lupakanlah. Buanglah jauh-jauh.
Sebab engkau masih begitu muda. Masih begitu banyak jalan terhampar di depanmu.
Dear Gadis Mungil
Dear Gadis Mungil, aku sudah merasa tenang sekarang.
Bukan apa-apa. Aku hanya butuh teman bercerita.
Jika kau terganggu, atau menganggapku bukan sebagai sahabatmu lagi, aku sudah terbiasa bersahabat dengan buku. Dengan novel-novel. Dengan aneka cerita di dalam kepalaku.
Terakhir, maafkan aku jika aku tidak jadi berhenti menuliskan tentangmu.
Maafkan aku, Gadis Mungil ku, maafkan aku.

