Segalanya terasa sempurna.
Malam yang jatuh perlahan, gugusan daun-daun salam menggunung, dingin udara yang diam. Sangat sempurna, begitu paripurna.
Kebekuan pikir dan ingatan, kata Biyas Mahatma, adalah pertanda bahwa hidup akan dimulai dari awal. Seperti halaman-halaman buku bergaris. Puith bersih si jabang bayi. Tanpa sahabat, dan tentu, tanpa si Gadis mungil itu.
Hidup akan segera dimulai dengan sebenar-benarnya, ketika Biyas Mahatma, membaca Kembali (entah kenapa dia begitu senang membacanya) sepucuk surat bersampul coklat, yang ia terima sore tadi.
Surat itu, yang bentuk tulisannya begitu akrab, tengah ia baca lagi untuk kali kesepuluh tepat pukul tiga dini hari. Sepucuk surat dari Gadis.
***
Dear Biyas Mahatma
Aku telah membaca tulisan-tulisanmu. Rasanya tak satu kata, atau tak satu kalimatpun luput dari mataku.
Tulisanmu yang sarat metafor, penuh majas, penuh pikir, membuatku tidak mudah untuk memahaminya.
Tapi perlu kamu ketahui, pada akhirnya aku memahami. Tentu dengan susah payah. Secara aku bukanlah orang yang pandai merangkai kalimat.
Aku mengerti sepenuhnya. Bahwa secara garis besar, kau telah menyimpulkan secara sepihak—bahwa dalam kesimpulanmu—aku telah jatuh cinta. Setidak-tidaknya itu yang aku pahami dari tulisan terakhirmu yang kau sebut sebagai puisi itu.
Jatuh cinta yang dalam pretensimu salah.
Biyas, kau ini lucu. Kelucuanmu tidak berbanding lurus dengan usiamu. Dengan pola pikirmu yang menempatkanku dalam posisi yang salah.
Apakah perempuan selalu salah?
Biyas yang maha tau, aku memang pernah—ku akui itu, dan akan terus ku ingat—mengatakan kepadamu, atau tepatnya berjanji tidak akan jatuh cinta sebelum aku bergelar sarjana. Sebagai bentuk tanggungjawabku kepada papa dan mama yang telah membiayai kuliahku habis-habisan.
Aku memang dekat dengan seorang laki-laki. Itu yang kau lihat di media sosialku, bukan?
Tapi apakah dekat itu artinya jatuh cinta? Coba katakan kepadaku Biyas, apakah dekat dengan laki-laki artinya jatuh cinta? Seperti halnya kau yang dekat denganku, apakah itu artinya juga jatuh cinta?
Tidak Biyas, tidak!
Mungkin cara pertemananku beda dengan apa yang kau pahami. Kami—aku dan laki-laki itu—telah berkomitmen untuk saling memahami kedekatan kami hanya sebagai teman. Sebagai sahabat. Tak lebih.
Jadi, tulisan-tulisanmu jelas-jelas menyudutkanku, benar-benar tidak berdasar. Kamu telah salah paham. Kamu telah berpraduga.
We understand each other. We meet when only we have time and circumstances. We’re friends. Nothing more.
Pahamilah Biyas, pahamilah. Aku masih memegang janjiku. Aku tidak berubah atas apa yang pernah aku katakan kepadamu.
Aku masih muda. Begitu muda. Aku ingin menikmati masa mudaku. Seperti kamu dulu menghabiskan masa mudamu dengan caramu sendiri. Dan aku tidak protes.
Katamu, umur tujuh belas tahun adalah umur-umur ranum anggur dan bunga bagi seorang perempuan. Umur di mana seorang yang sedang mengalaminya (dan aku sedang mangalaimnya) seperti mendapat kebebasan (dan aku sedang mendapat kebebasan) dari buih jeruji besi.
Hingga pada suatu hari, pada fase tertentu, aku bertanya-tanya, seperti apa kau dimata orang lain?. Apa aku terlihat kuat, atau justru biasa saja? Apakah aku cantik? dst dst dst.
Kadang aku merasa jatuh. Kadang tegak berdiri menghadapi apa yang kau sebut sebagai dunia yang tak ramah.
Aku juga bertanya pada diriku sendiri, apakah kau juga mengalami hal yang aku rasakan waktu muda dulu?
Seperti dirimu sebagai orang lain, kadang pandanganmu terhadapku sangat bergantung pada cara berpikirmu. Kau bisa berpikir tentang aku sebagai gadis yang baik atau buruk, semata-mata tergantung cara berpikir.
Maka, itu wajar jika tidak semua orang memahami kita. Atau memahami kita dengan cara yang berbeda-beda.
Biyas, mumpung Ramadhan baru dimulai, tak ada salahnya jika aku—sebagai gadis muda—memohon maaf kepada dirimu sebagai yang tua. Maafkan atas semua kesalahan yang aku perbuat belakangan ini. Maafkan aku Biyas, maafkan.
Biyas, I hope you are still the same person I knew before. And I hope you don’t look at me badly
Dari sahabatmu (ya, kau sahabatku) yang sering kau salah pahami,
Gadis Mungil
***
Biyas terdiam. Meyakinkan hati dan pikirannya sendiri dengan penegasan; apakah benar yang dituliskan Gadis?
Bagaimana aku memahami pertemanan yang bukan saja dekat, tapi sudah seperti sepasang kekasih? Bukankah bisa saja Gadis berbohong? Bukankah itu terbukti dengan pesan-pesanku yang jarang atau lama dibalas?
Dis, jangan pernah membuat laki-laki berharap. Kedekatanmu—meski kau bilang sebagai kedekatan sahabat—bisa berakibat salah tafsir. Sebagaiman aku salah menafsirkan video yang kau unggah di akun media sosialmu. Dan itu yang berbahaya buatmu. Sebab dunia ini terdiri dari anasir-anasir tafsir yang mudah disalahpahami
Sekarang begini. Bagiaman jika laki-laki itu menafsirkan bahwa kau mencintainya? Dan apa yang akan terjadi jika dia tau kalau sebenarnya kamu tidak mencintainya? Bagaimana perasaan laki-laki itu, Dis? Coba kau renungkan.
Yang paling sakit dari bagian tubuh kita ketika disakiti adalah perasaan. Perasaan yang sakit akan melahirkan dendam. Dendam akan melahirkan luka. Dan luka akan melahirkan darah. Dan darah yang tertumpah, akan melahirkan dendam. Begitu seterusnya. Sebab begitulah cara dunia bekerja.
Tapi, jika apa yang aku tuliskan menyinggung perasaanmu (tapi bukankah kamu memprovokasi saya untuk menulis demikin?), aku mohon maaf yang sebesar-besarnya, seagung-agungnya.
Dis, I don’t think we would say goodbye.
Surat itu Biyas lipat. Suara imsak berkumandang.

