Biyas Mahatma melenguh, mengingat kembali apa yang telah ia saksikan pada sisa terang hari ini.
Dalam perjalanan pulang dari kota mati, ia menyimpulkan: Gadis Mungil bermata Sakura itu kini mulai jatuh cinta.
Biyas terus membatin, diam dalam pikiran tidak senonoh ihwal sahabatnya itu; “Betapa mudahnya perempuan jatuh cinta”.
Pasi warna yang merayap pada kulit wajahnya menampakkan rasa gagu. Antara kecewa atau bahagia.
Pada pemberhentian sementara di perempatan lampu merah menuju rumahnya, Biyas memaklumi. Jatuh cinta adalah hak setiap orang. Orang normal tentu saja. Baik laki-laki maupun perempuan.
Dan Gadis—sahabatnya itu—adalah orang normal. Perempuan tujuh belas tahun yang hormon dan kelenjar dadanya menjadi padat ketika berada di dekat laki-laki. Semacam bulu kudu yang berdiri tegak karena melihat hantu.
Setelah lampu merah berganti hijau, Biyas Mahatma mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Meliuk-liuk, meninggalkan segala jenis kendaraan di belakangnya. Ia ingin segera tiba di rumahnya. Agar bisa segera ngopi, agar segera berpikir jernih.
Pada sebuah tikungan, ia melambatkan kendaraan. Mungkinkah Gadis itu telah jatuh cinta? Benarkah dia benar-benar sudah pacaran?
Hujan tumpah.
Biyas segera masuk rumahnya. Langsung ke dapur, menyalakan kompor, dan menyiapkan kopi. Tangannya bergetar. Sambil menunggu air mendidih, ia lihat kembali media sosial milik Gadis.
Postingan itu masih sama. Sama seperti yang ia lihat hari tadi dalam perjalanan pulang. Segalanya sangat jelas.
Tetapi ada rasa menyangkal dalam dadanya, ketika Biyas menyedu kopi. Semacam penegasan kalimat tidak mungkin. Tidak mungkin itu terjadi.
Tapi fakta di media sosial milik Gadis menegaskan semuanya. Menjawab keraguan dibenaknya. Gadis telah jatuh cinta. Berdua di dalam sebuah wahana ikan. Bermanja dan saling memegang. Saling menatap. Saling tersenyum.
Dalam gumpalan asap batang rokok pertamanya, Biyas mengiyakan. Membuang sangkal. Menerima semuanya yang memang sudah jelas. Jelas sekali. Gadis telah jatuh cinta.
Tidak ada yang salah pada orang jatuh cinta. Juga tidak ada istilah benar atau salah pada orang yang mabuk asmara.
Orang jatuh cinta adalah orang gila yang sedang membangun dunianya secara perlahan. Dunia yang benar-benar berbeda. Dunia di mana alamnya hanya ada kebahagiaan, rindu, dan tidak ada orang lain di dalamnya.
Dunia yang penuh dengan bunga-bunga. Dunia yang penuh rasa sayang melimpah ruah.
“Eh, sebentar,” Biyas kaget. Tiba-tiba dia teringat bunga yang ia kirimkan di hari ulang tahun Gadis, beserta buket-buket bunga lainnya yang ia kirim belakangan, terutama ketika Biyas meletakan bunga di teras rumah Gadis, karena kata Gadis, ia takut ketahuan orang.
Dan ya Tuhan, ingat Biyas, bunga yang ia letakan di teras rumah Gadis, ternyata menjadi bunga terakhir yang ia berikan, sebelum ia tahu Gadis sudah atau sedang jatuh cinta.
Yang terjadi, biarlah terjadi.
Meski demikian, Biyas masih menyisakan sangsi. Ia teringat suatu hari Gadis bilang bahwa ia akan melanjutkan studinya. Akan mengutamakan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi sebelum jatuh cinta.
Dan kalimat-kalimat seperti “Aku mendoakanmu agar diterima diperguruan tinggi yang kamu impikan”, “Aku mendukungmu untuk melanjutkan kuliah’’, “Doakan aku selalu ya Biyas?”, “Aku berjanji tidak akan pacarana dulu,” masih melekat pada ingatan Biyas, seperti kalimat yang ia maupun Gadis ucapkan kemarin sore, yang dalam sekejap lenyap tak berbekas pada ingatan Gadis.
Biyas mengokop sisa kopi yang tinggal ampas. Dan rokok terakhir kembali ia sulut. Batinnya bergejolak. Semudah itukah perempuan melupakan janjinya?. Semudah itukah perempuan jatuh cinta?.
Tapi, kenang Biyas, bisa tau tidak, mau atau tidak, dia harus melupakan sahabatnya. Gadis mungil bermata Sakura yang ia kenal pada suatu siang di bulan Desember, sebab Biyas bukan apa-apanya Gadis.
Atau pilihan kedua, Biyas harus tetap mendukungnya. Mendukung Gadis jatuh cinta, dan sekaligus mendukung Gadis melanjutkan studi.
Tapi sekali lagi, sangkalnya, dunia kuliah bukanlah dunia sederhana. Bukan dunia yang ramah.
Ada satu cerita yang sebenarnya Biyas ingin ceritakan kepada Gadis. Bahwa jika Gadis mampu menjaga dirinya,—menjaga diri dari godaan dunia kuliah yang terkutuk—maka dunia kuliah akan menjadi dunia yang ramah. Begitu pun sebaliknya.
Mengingat sifat, watak, dan karakter Gadis, muncul kesangsian, ketidakpercayaan, ketidakyakinan dalam kepala Biyas. Mungkinkah Gadis itu mampu menjaga dirinya?.
Biyas masuk ke kamarnya. Catatan dalam buku harian yang kemarin malam berisi pujian berbusa-busa kepad Gadis, ia coret, sambil menuliskan; ini adalah catatan terakhir tentangmu, Dis, yang terakhir.
Selanjutnya, pikir Biyas, apa yang terjadi, terjadilah.
Hujan kian menderas.


Tinggalkan Balasan