02.35 pagi.
Biyas terjaga. Deru sunyi menyerbu telinga.
Ada yang melayang-layang di dalam kepalanya. Semacam ingatan yang putus-putus. Ingatan-ingatan yang bertubrukan. Runtuh menjadi huruf-huruf yang tidak mudah untuk dicerna, yang mana membuat tubuhnya berdiri tegak dan utuh, meski kantuk masih bersarang di sudut matanya.
Ia berjalan menuju dapur, mengambil segelas air putih. Meminumnya, lalu duduk di atas kursi plastik berwarna biru tua. Diam sebentar, lalu mengingat kembali ingatan-ingatan yang barusan bertubrukan di dalam kepalanya.
Pada ingatan yang pertama, demikian Biyas meyakini, adalah ingatan tentang pendakian ke gunung Merbabu. Sebuah pendakian bersama kawan-kawannya dua tahun silam, setelah hujan menjadi gerimis. Gunung di mana, kenang Biyas, ketika tidur di pos tiga, menangis sendirian di depan tenda.
Ada banyak alasan menangis di gunung. Misalnya tentang para pendaki yang hilang. Atau menangisi keagungan lukisan Tuhan. Tapi bagi Biyas, ia tidak punya alasan yang pasti kenapa ia menangis waktu itu. Yang jelas, berada pada ketinggian yang tidak biasa, akan membuat siapapun begitu mudah meneteskan air mata.
Setelah ingatan prihal gunung itu tampak jelas, Biyas merasakan rindu sabana gunung Merbabu. Di mana angin berdesir menyapu wajahnya dan bunga-bunga Edelweis yang dingin. Pada pukul tujuh pagi waktu itu, ingat Biyas, tepatnya setelah summit pukul 03.00, Biyas sampai di puncak Kenteng. Puncak gunung Merbabu dengan ketinggian 3.145 mdpl.
Gunung selalu memberikan ruang bagi jiwa dan pikiran Biyas. Jiwa yang bebas, pikiran yang tenang. Kini, setelah segelas air putih habis, ia benar-benar merasakan rindu aroma gunung beserta aroma para penghuninya.
Pada ingatan kedua, Biyas meyakini, ingatan tentang ombak yang bergulung-gulung di pantai Menganti. Pantai yang menyajikan senja kuning jingga, yang ronanya kian renta ketika waktu kian tenggelam.
Di Pantai itu, kenang Biyas, ia berjalan sendirian. Melukis batu-batu besar dan dinding curam jurang pantai melalui kamera smart phone miliknya. Juga perahu-perahu nelayan yang terombang-ambing disisir ombak.
Bagi Biyas, pantai adalah tempat di mana ia dengan mudah membuang duka. Pada kunjungan kedua ke pantai Menganti waktu itu, Ia menghempaskan lukanya, ngilu dadanya, pada gulungan ombak yang nampak berbentuk roda-roda besar yang melindas apapun secara terus menerus.
Hampir sebulan Biyas menunggu kabar kedatangan seorang laki-laki—sahabatnya—yang ia kenal melalui pesan-pesan di Instagram. Seorang laki-laki yang punya selera tinggi pada makanan dan minuman.
Hingga pada hari terakhir yang menggenapi bulan Agustus, Biyas meyakinkan diri, laki-laki itu telah ingkar janji. Di Pantai Menganti, ia hapus pesan-pesan di Instagram bersama camar dan deru ombak yang bergemuruh.
Laut menjadi tempat yang tidak pernah Biyas rindukan. Laut itu mengerikan. Setiap ombaknya adalah maut yang mengintai.
Dahi Biyas berkerut. Meyakinkan diri pada ingatan yang ketiga.
Tampak seperti seorang gadis yang melambaikan tangannya. Tapi ia menjadi ragu, apakah itu benar-benar seorang gadis, atau sebuah baju perempuan yang melayang-layang diterpa angin? Ingatan ketiga itu tidak begitu jelas. Biyas urung meyakinkan diri seperti keyakinannya pada ingatan pertama dan kedua.
Tapi sebentar. Sepertinya Biyas mengenali gadis itu.
Bukankah itu gadis yang sempat menjadi sahabatnya sebentar? Sahabat yang kerap ia rindukan pada sisa pertiga malam? Sahabat yang pernah menjadi teman bercerita? Sahabat yang bercita-cita menjadi sarjana? Sahabat yang berjanji tidak akan pacaran? Sahabat yang mematahkan janjinya sendiri, ketika Biyas mengetahui ia terpaut pada hati seorang laki-laki lain?
Tidak! Biyas tegas.
Ia tidak ingin mengingat kembali gadis itu. Ia akan membuang kenangan bersamanya di pantai Menganti pada kunjungan berikutnya. Dan Biyas ingat, ia sudah menutup halaman buku harian yang berisi catatan tentang gadis itu. Gadis yang plinplan pada janjinya sendiri.
Biyas hanya merindukan gunung. Merindukan bau keringat saat berjuang mendaki, dan rindu sedap aroma mi instan yang ia masak di depan tenda sebelum maupun sesudah summit.
Merbabu yang telah usai Biyas taklukan. Sumbing yang hampir membuatnya mati sebelum mencapai puncak. Kembang yang seperti kulkas dinginnya, dan Prau yang membuatnya rindu pada sunrise berwarna kuning keemasan menerpa bunga-bunga Dandelion.
Biyas Mahatma, sungguh-sungguh merindukan gunung.
Bumi Manusia, sebelum subuh, Februari 2026

