Kadang aku—gadis 17 tahun ini—bertanya-tanya; seperti apa aku di mata orang lain?
Apakah aku terlihat kuat, atau biasa saja? Apakah senyumku benar-benar terlihat tulus, atau hanya dianggap formalitas belaka?
Setiap orang memiliki versinya masing-masing, seperti aku memiliki versiku sendiri. Dan aku sadar, ada hal-hal yang tidak bisa aku kontrol, dan itu diluar kendaliku.
Lucunya, sering kali kita terlalu sibuk memikirkan bagimana orang lain menilai kita, sampai lupa bertanya; bagaimana aku menilai diriku sendiri? Mungkin ada juga kesalahanku dalam menilai diriku.
Kini aku—gadis 17 tahun—mulai belajar bahwa wajar jika tidak semua orang memahami kita. Wajar jika ada yang salah menilai, karena mereka melihat dari sudut pandang masing-masing dengan pengalaman dan cara oikir mereka sendiri.
Yang paling penting bukanlah bagaimana aku dipandang, tetapi bagaimana aku berdiri teguh sebagai diriku sendiri.
Selama aku tahu niatku baik, aku tidak harus sempurna di mata orang. Aku perlu menjadi utuh dalam diriku sendiri.
Kadang kita baru sadar.
Tidak semua hal yang kita inginkan memang perlu terjadi. Ada rencana yang gagal. Ada doa yang terasa tidak dijawab.
Ada jalan yang tiba-tiba tertutup, dan semuanya sempat membuat kita bertanya-tanya.
Namun perlahan kita belajar. Bahwa ada banyak hal yang Tuhan hentikan, demi melindungi kita. Bahkan ketika kita tidak menyadarinya.
Maka, hari ini mari kita belajar untuk bersyukur bukan hanya atas apa yang kita terima, tetapi juga atas apa yang tidak terjadi.
Karena bisa jadi yang dulu kita sesali, justru adalah cara Tuhan menjaga kita dan menuntun hidup kearah yang lebih baik.

