Sekarang tahun 2026.
Dan perihal membaca buku menjadi hal yang kian berkurang di tengah masyarakat kita. Setidak-tidaknya demikianlah—meski subyektif—yang aku rasa.
Bagi sebagian masyarakat kita, membaca buku adalah kegiatan yang membuang-buang waktu dan uang. Apalagi—taruhlah—untuk membeli dan membaca buku fiksi seperti novel.
Sementara, bagi sebagian lain, membaca buku masih menjadi kegiatan yang menyenangkan.
Ini aku temukan pada sebagian teman-temanku, terutama sebagian yang masih pelajar, dan sebagian lain yang masih menjadi mahasiswa.
Aku tidak bermaksud untuk menggeneralisasi.
Sebab ada juga pelajar dan mahasiswa—yang dalam kacamatku masih menjadi kaum intelektuil—tidak membaca, dan bahkan tidak mempunyai buku.
Aku juga tidak hendak menyalahkan mereka yang tidak membaca. Hanya saja, bagi negara-negara maju, salah satu kontribusi masyarakatnya adalah membaca.
Dengan kalimat lain masyarakat di negara-negara maju, sangat gemar membaca buku. Baik di ruang privat, maupun di ruang publik.
Apa Yang Terjadi Dengan Kita?
Pada tahun 2025, Goodstats melakukan survei terhadap publik Indonesia bertajuk survei Preferensi Membaca Buku di Era Digital Tahun 2025.
Hasilnya, hanya 20,7% yang rutin membaca buku setiap hari, 22,3% responden rutin membaca setiap minggu, 24,6% rutin membaca tiap bulan, 15,4% jarang membaca, dan 17% hanya sesekali membaca.
Sementara itu menurut UNESCO, tingkat baca Indonesia hanya 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.
Sedangkan World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada tahun 2016 menyimpulkan Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

Sementara itu pada tahun 2020, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan hanya sekitar 10% penduduk Indonesia yang rajin membaca buku. Angka tersebut tentu menunjukkan rendahnya minat membaca di kalangan masyarakat kita.
Dari data tersebut secara umum kitab isa menyimpulkan bahwa memang minat baca kita masih rendah.
Secara pribadi, ada banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya minat baca kita.
Pertama, platform media sosial.
Kehadiran media sosial sangat mengurangi minat baca. Belakangan, kita lebih suka menonton video pendek yang bersifat menghibur, dari pada membaca buku.
Kedua, harga buku yang kelewat mahal.
Harus kita akui akses buku kita masih sangat mahal. Untuk buku-buku berkualitas—ini sesuai pengalamanku—harganya bahkan di atas seratus ribu rupiah.
Tentu kita harus berpikir dua kali dengan uang seratus ribu itu. Antara memenuhi kebutuhan pokok, atau kebutuhan membaca.
Ketiga, minimnya gebrakan perpustakaan umum atau daerah.
Di mana-mana, di setiap kabupaten memiliki perpustakaan daerah. Namun, seperti yang saya lihat sendiri pada saat mengunjungi perpustakaan daerah, hanya segelintir orang yang mengunjungi perpustakaan.
Dengan kalimat lain, perpustakaan daerah harus mempunyai terobosan agar mampu mendongkrak minat baca masyarakat.
Saya sendiri memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi sekira 200-an judul buku.
Bukan hendak pamer, tapi secara pribadi saya suka membaca buku. Baik genre fiksi maupun non fiksi.
Menulis
Literasi membaca seharusnya berbanding lurus dengan menulis.
Dulu, waktu remaja saya mempunyai buku harian. Dan buku sekira 200-an halaman itu dipenuhi dengan tulisan tangan.
Ya meskipun hanya tulisan harian dari soal cinta-cintaan hingga soal pertemanan. Namun, pada waktu itu, setiap kita bisa menulis.
Bahkan hanya menulis surat. Surat cinta misalnya.
Untuk saya ptibadi, bahasa dan kalimat yang saya gunakan untuk menulis surat berasal dari novel-novel yang saya baca waktu itu. Meskipun, sejujurnya hanya novel-novel karya Fredy S yang bisa saya akses untuk dibaca.
Lalu, dekade 2000-2014, muncul fenomena digital (waktu itu belum massif seperti sekarang) bernama platform blog. Sebuah platform digital yang pemiliknya harus benar-benar menulis.

Maka, pada decade tersebut, saya juga memiliki lebih dari satu blog dengan tema yang berbeda-beda.
Apapun tema sebuah blog, tetap saja harus berisi tulisan. Nah, jaman ngeblog inilah jaman di mana setiap orang yang memiliki blog bisa menulis.
Sekarang, setelah media sosial merajai platform digital, jarang sekali saya menemui orang yang menulis. Baik menulis buku, maupun sekedar menulis di laman digital.
Sekali lagi, saya tidak hendak menyalahkan mereka yang tidak membaca buku dan menulis.
Saya hanya sangat prihatin dengan situasi hari ini, di mana media sosial telah sangat akut membodohi kita.
Jadi, buku apa yang sedang kamu baca? Atau, tulisan apa yang sedang kamu tulis?
Tinggalkan Balasan