Lalu bagimana jadinya jika secangkir kopi yang selama ini senantiasa setia menemaniku merangkai puisi, tiba-tiba menghiba kepadaku untuk menggantikan posisinya.
Aku pun terkejut. Bagaimana mungkin kopi-kopi yang telah ku sedu kemudian melompat-lompat dan memintaku menjadi kopi? Hah, ada-ada saja.
Akhirnya, dengan hati yang berat aku pun bersedia menjadi kopi, menemaninya merangkai puisi.
Pertama-tama tubuhku menjadi bubuk kopi.
Lalu aku dimasukan ke dalam cangkir. Kemudian sesendok dua sendok gula pasir mengubur tubuhku. Setelah itu air panas mengguyur tubuhku. Lantas aku dan gula pasir diaduk bersama air tungku yang mendidih.
Jadilah aku secangkir kopi yang beraroma menahan kantuk dan rayuan bantal. Begitu seterusnya selama bermalam-malam.
Tak ku sangka tak ku duga, menjadi kopi adalah juga menjadi bagian hidup yang paling bersahaja. Ia tak pernah protes kepada hidup.
Tak pernah mengeluh meski harus lebur karena air panas, serta senantiasa menjadi benda yang paling setia menemani tuannya. Dan inilah pengalamanku selama aku menjadi secangkir kopi.
Monolog Secangkir Kopi
Buat Para Penikmat Kopi
maka inilah aku yang dikutuk takdir menjadi sebiji kopi
mengecap lidah pada setiap jejak tengara waktu
manis dan pahit bertubrukan
di antara denting sendok dan beling
tubuhku legam, hangat, sesekali mendidih matahari
menjaga mata dari kantuk dan bantal
asin keringatku menyulap malam menjadi sebatang siang
menyihir siang menjadi arang
bagi mata-mata yang sungkan terpejam
seperti bujur jasadku yang legam, aku tak pernah mengenal huruf untuk mengeja takdir. Atau tak sempat akrab dengan segumpal tanya kenapa aku mesti harus menjadi kopi
seperti gula pasir yang senantiasa manis dalam setiap pahit. takzim membaca suratan garis-garis tangan tanpa tanda tanya.
aku hanya mengenal angka satu, dua, atau setengah sendok
hingga aroma tubuh telanjangku pas disedu
bagi pemuja malam dengan segenap birahi di ujung dentum gelas dan cangkir


Tinggalkan Balasan