Lagu Am I That Easy to Forget menggema di telinga. Suara Ray Dylan sungguh menyayat jantung.
Seperti judulnya—am I that easy to forget—aku merasa begitu sendiri. Begitu mudah untuk dilupakan oleh siapapun, bahkan oleh ingatanku sendiri.
Aku telah mencoba menjalin pertemanan. Membangun persahabatan dengan orang-orang. Namun selalu gagal, selalu berakhir dengan rasa kesendirian serta rasa tak berguna setelahnya.
Misalnya, aku pernah mencoba berteman dengan seseorang bernama NA, yang memiliki hobi membaca (karena aku suka membaca) agar aku bisa bercerita tentang buku yang telah aku baca. Atau agar aku bisa mendengar cerita buku yang telah dia baca.
Namun, tetap saja, pada akhirnya aku menyerah kepadanya. Dia begitu tidak peduli kepadaku meski aku kerap memberikan buku kepadanya. Padahal aku ingin sekali berkisah tentang Jo dalam novel Little Woman.
Lalu aku pernah mencoba menjalin persahabatan dengan seseorang bernama SS (orang ini telah menginspirasiku menulis beberapa cerita pendek dan puisi) yang aku temui pada sebuah pagi menjelang siang bulan Desember.
Pada awalnya aku merasa sangat bahagia. Aku berpikir barangkali dialah yang akan menjadi teman ceritaku. Aku demikian yakin sebab dia beberapa kali mengajakku menghabiskan waktu di hutan Damar, dan curug-curug berair deras.
Untuk kali kedua, aku luput. Seseorang bernama SS itu hilang tak meninggalkan jejak. Maka sekali lagi, aku gagal menjalin persahabatan.
Aku selalu ingin bercerita.
Perihal anomali cuaca belakangan ini. Perihal hidup yang kian sulit, kian terjepit. Tentang tangis yang jatuh pada sisa pertiga malamku. Dari mimpi buruk yang berakhir dengan pertanyaan; bagaimana besok hidup berjalan?
Tapi pada siapa lagi aku bercerita?
Sedang segenap kisah yang aku baca telah menumpuk di kepala, seperti Atlas yang menanggung batu besar di atas pundaknya, semakin terlupa.
Begitu Mudah Dilupakan
Setiap orang tentu berharap agar pertemanan, persahabatan, persaudaraan tidak mudah dilupakan. Pada setiap orang memiliki kenangan sebagai pengingat atas persahabatan dan lain sebagainya.
Maka beruntunglah mereka yang mempunyai sahabat atau teman, atau saudara untuk saling bercerita.
Pun aku.
Tapi memang tidak mudah. Sungguh tidak gampang bagiku mencari teman atau sahabat yang sudi menjadi tempat bercerita. Yang terjadi padaku adalah aku begitu mudah dilupakan.
Aku masih ingat, kepada NA aku memberikan buku cerita. Kepada SS aku memberikan buket bunga-bunga. Aku tidak hendak meminta apapun kepada mereka. Aku hanya menginginkan persahabatan. Tidak lebih.
Kadang aku berbuat baik kepada orang-orang yang ku anggap sebagai teman. Namun selalu saja segenap kebaikan selalu mudah dilupakan. Aku tidak bermaksud untuk membahas kebaikan. Toh tetap saja, aku selalu gagal membangun persahabatan.
Kadang—pada titik tertentu—aku begitu tidak peduli dengan hidupku sendiri. Pada lingkungan di mana aku tinggal, pada orang-orang di sekitarku.
Tapi aku menyadari sepenuhnya bahwa kendati aku lelaki introvert, aku adalah mahluk sosial yang membutuhkan orang lain. Apalagi, bidang pekerjaanku bersinggungan dengan orang-orang.
Pada siapa lagi aku bercerita?
Tentang kisah seorang penjual buku yang begitu dihargai oleh sahabat dan para pelanggannya. Tentang kisah Pip yang selalu berbuat baik dan dibalas dengan kebagian dari teman-temannya, tentang Oliver Twist yang bertahan hidup dengan segala cara.
Tak ada. Tak ada tempat bagiku untuk bercerita.
Kendati aku telah berjanji untuk berjalan sendiri, namun aku tak bisa. Tak mampu menahan kesunyian dan kesepian yang kerap menusuk-nusuk jasad dan pikiranku.
Maukah Kau Jadi Sahabatku?
Maukah kau jadi sahabatku? Menjadi teman dan sauadara dimana kita bisa saling bercerita? Kalau tidak mau, pada siapa lagi aku bercerita?
Kau tau, lagu am I that easy to forget berakhir. Namun kesunyian, kesedihan, dan kesendirianku belum selesai.


Tinggalkan Balasan