Aku Yang Sedang Merindukan Mbah Kakung

Jangan Ngalamun, Kung?

Kung, kita lama tak berjumpa ya?

Aku—cucumu—ini rindu berat sejak perpisahan kita lebaran tahun lalu. Sayang sekali saat aku pamit pulang, engkau sedang pergi ke kebun.

Aku, istriku, dan anak-anaku tak bersalaman denganmu. Atau menicum tangan dan keningmu. Hanya titip salam buatmu melalui mbah putri.  

Malam ini, aku sungguh rindu kepadamu Kung, rindu berat. Aku tidak tahu kenapa rasa rindu ini tiba-tiba menusuk jantungku.

Mbah Kakung mungkin tidak tahu setiap kali aku memandang wajahmu, begitu banyak pertanyaan yang ingin aku sampaikan.

Misalnya pertanyaan; bagiaman masa mudah mbah dulu? Bagaimana rasanya mbah hidup berpindah-pindah sebelum menetap seperti sekarang ini?

Atau, bagaimana mbah pertama kali kenal mbah putri? Di mana ketemunya? Mbah putri dulu cantik ya Kung?

Tahu tidak, Kung?

Ada banyak kenangan yang masih tetap melekat pada ingatanku. Dulu aku suka ganggu saat Kakung bikin kerajinan anyaman buat dijual di pasar. Kakung sering marah kepadaku. Ternyata aku cucu yang nakal ya, Kung?

Sehat-Sehat Kalian Ya Mbah?

Sekarang, Kung, setelah aku punya anak, semua kenakalnku itu membuatku menyesal. Sekarang aku jadi paham bagaimana rasanya anak-anak nakal.

Kung, radio kayu itu sekarang di mana?

Radio kayu itulah yang rasanya membuatku kangen padamu. Kakung pasti masih ingat ketika bikin kerajinan anyaman nyetel radio yang diletakan di atas meja besar dan berat itu.

Dan aku ingat betul hingga detik ini. Kakung mendengarkan RRI Purwokerto yang sepanjang siang setelah jam 11 menyiarkan uyon-uyon Banyumasan.

Dan saat mau tidur, sekira jam 9 malam kalau tidak lupa, Kakung selalu mendengarkan siarang wayang kulit dengan dalang Ki Sugino Siswo Carito sampai kakung tertidur, dan ketika terbangun radio sudah bersuara kemresek.

Tak dinyana, suara uyon-uyon dan siaran wayang kulit itulah yang sekarang membuatku jatuh cinta sama gamelan dan wayang.

Dan di tempat hidupku yang baru Kung, kadang aku memutar Gending Uyon-Uyon Banyumasan seperti yang Kakung dengarkan dulu sepanjang hari.

Udah Sepuh Masih ke Kebun, Kung?

Kung, cucumu boleh minta sesuatu padamu? Kakung kan udah sepuh, istirahat saja di rumah Kung, jangan ke kebun nyari rumput buat kambing Kakung. Kan masih ada Lik Kus dan suami yang nyari rumput Kung?

Kung, sampai sini dulu ya? Kalau aku pulang ke rumah Kakung, aku janji bakal banyak ngobrol sama Kakung.

Terima kasih Kung, sehat-sehat selalu ya Kung?

Avatar Sukman Ibrahim
Bagikan Tulisan Ini Yuk?

Tulis Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *